Kaltim Kejar Target Swasembada Beras 100 Persen pada Akhir 2026
- Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menargetkan capaian swasembada beras menyentuh angka 100 persen penuh pada akhir tahun 2026 mendatang.
- Untuk memutus ketergantungan pasokan beras dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, Pemprov Kaltim menargetkan perluasan hingga 15 ribu hektare lahan sawah aktif baru.
- Modernisasi sektor pertanian di Kaltim digerakkan oleh 70 unit Brigade Pangan yang diisi oleh generasi muda dengan pemanfaatan teknologi digital dan drone.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menargetkan pencapaian swasembada beras secara penuh hingga 100 persen pada akhir tahun 2026 mendatang. Langkah berani ini diambil untuk mengikis ketergantungan pangan Bumi Etam yang selama ini masih ditopang oleh pasokan dari luar daerah. Saat ini, tingkat pemenuhan kebutuhan beras mandiri di provinsi lumbung energi tersebut baru menyentuh kisaran 60 persen.
'Kalimantan Timur sudah mengalami peningkatan produksi padi sangat berarti. Saat ini capaian swasembada sudah lebih dari 60 persen. Kami bertekad kuat agar pada akhir 2026 angka ini menjadi seratus persen penuh,' ujar Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji saat ditemui di Samarinda. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kebutuhan beras tahunan Kaltim mencapai 350 ribu ton, sedangkan produksi lokal saat ini baru mampu menyuplai sekitar 157 ribu ton beras.
Guna menutup defisit pasokan yang biasanya didatangkan dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, pemda setempat meluncurkan strategi perluasan lahan. Kaltim membidik penambahan sawah baru seluas 2.300 hektare serta rehabilitasi lahan eksis sebesar 12.800 hektare tahun ini. Kombinasi tersebut akan menghasilkan sekitar 15 ribu hektare sawah aktif baru yang tersebar di enam kabupaten penyangga, termasuk Kutai Kartanegara, Paser, dan Penajam Paser Utara.
Upaya akselerasi ini turut mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat demi merealisasikan target Kementerian Pertanian agar Kaltim memiliki total 65 ribu hektare sawah aktif. Transformasi pertanian di lapangan kini juga melibatkan generasi muda lewat pembentukan 70 unit Brigade Pangan. 'Program ini berdiri di atas satu keyakinan: pertanian butuh wajah baru, semangat baru, dan tangan yang terbiasa dengan teknologi baru,' kata Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim Fahmi Himawan.
Implementasi digitalisasi pertanian ini sudah membuahkan hasil manis di Kelurahan Bukit Biru, Tenggarong, Kutai Kartanegara. Melalui pendampingan dari Bank Indonesia Perwakilan Kaltim, para petani setempat mulai menggunakan drone untuk penyemprotan serta menerapkan sistem pertanian berkelanjutan. Hasilnya, produktivitas gabah kering giling (GKG) melonjak signifikan hingga menyentuh angka 7,23 ton per hektare dari yang sebelumnya hanya berkisar 3 hingga 4 ton saja.