Ekspansi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia dalam mengejar target 100 GW masih menemui berbagai tantangan signifikan. Asosiasi Energi Surya Indonesia menyebutkan kendala utama mencakup kesiapan lahan, perbedaan perizinan, skala proyek, hingga keterbatasan sumber daya manusia.
“Jadi kalau kita bicara mengenai bottleneck saat ini kalau untuk PLTS itu kesiapan lahan. Itu yang utama, karena memang ini kekurangannya membutuhkan lahan yang besar untuk saat ini," ungkap dia dalam Energy Corner, Senin (14/9/2026).”
— Asosiasi Energi Surya Indonesia
Ekspansi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia guna mengejar target ambisius hingga 100 GW saat ini masih dihadapkan pada berbagai macam hambatan di lapangan. Berbagai tantangan tersebut mulai dari masalah ketersediaan lahan, tantangan sumber daya manusia, hingga urusan investasi.
Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Mada Ayu Habsari, mengungkapkan bahwa persoalan utama dalam pengembangan teknologi energi bersih ini terletak pada kebutuhan ruang yang luas. Kesiapan lahan menjadi faktor paling krusial yang harus segera diatasi.
"Jadi kalau kita bicara mengenai bottleneck saat ini kalau untuk PLTS itu kesiapan lahan. Itu yang utama, karena memang ini kekurangannya membutuhkan lahan yang besar untuk saat ini," ungkap Mada Ayu dalam acara Energy Corner pada Senin, 14 September 2026.
Meskipun demikian, pihak AESI menyatakan telah menyiapkan sejumlah alternatif solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan tersebut agar program transisi energi nasional dapat tetap berjalan dengan optimal.
Alternatif Lahan dan Kompleksitas Perizinan
Sebagai solusi atas kendala lahan yang luas, AESI mendorong pemanfaatan area alternatif seperti pembangunan panel surya di atas permukaan bendungan. Selain itu, pemanfaatan ruang kosong pada atap bangunan perumahan maupun pabrik juga menjadi opsi yang sangat potensial.
"Jadi di Indonesia itu masih banyak atap-atap yang masih kosong, nah itu mungkin bisa kita gunakan sebagai lahan alternatif untuk pemanfaatan PLTS. Baik dari atap rumah, atap gedung pabrik, jadi pokoknya yang ada atap itu bisa kita gunakan," tambah Ayu.
Tantangan berikutnya yang tidak kalah penting adalah perkara perizinan birokrasi. Meskipun pengembangan PLTS telah memiliki payung regulasi resmi, implementasi aturan di tingkat pusat dan daerah sering kali mengalami perbedaan penafsiran.
"Jadi misalnya, perizinan di pusat bilangnya a, b, c sampai ke daerah mungkin a+, a-. Ada tambahan-tambahan yang sehingga kadang-kadang mengakibatkan perbedaan pendapat. Ini kami dari AESI tentu saja berharap bahwa masalah perizinan ini memiliki persyaratan yang sama dari atas sampai bawah," jelas Ayu.
Read Also
Kekeringan Parah akibat El Nino Hantam Sri Lanka dan Paksa Warga Gali Tanah Demi Air
Kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino melanda wilayah Sri Lanka,...
Asap Karhutla Kalimantan Selimuti Manila Filipina Picu Kualitas Udara Berbahaya
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Indonesia,...
KLH Cek Kualitas Udara Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau dan Ungkap Hasilnya
Kementerian Lingkungan Hidup melakukan pemantauan kualitas udara di berbagai...
Bank Raksasa Bakal Kena Sanksi Amerika Serikat Pekan Depan
Pemerintahan Amerika Serikat berencana menjatuhkan sanksi terhadap sebuah...
Skala Proyek, SDM, dan Solusi Grid Energi
Hambatan lain yang turut menghambat percepatan pembangunan adalah terkait skala proyek yang relatif kecil sehingga kerap kesulitan dalam mengakses pembiayaan. Terlebih lagi, kondisi geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan membuat pengembangan proyek berskala kecil menjadi kurang mendukung secara ekonomis.
Selain masalah pembiayaan, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten juga menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika proyek merambah ke daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Keterbatasan tenaga lokal sering kali memaksa pengembang mendatangkan tenaga ahli langsung dari Pulau Jawa.
Dari sisi investasi, kebutuhan akan platform pendanaan khusus berisiko rendah sangat diperlukan guna memastikan seluruh rangkaian proyek dapat berjalan lancar. Aspek ketersediaan grid penopang yang kuat juga menjadi kunci utama mengingat sifat energi surya yang intermiten.
"Untuk itu kita dari AESI mendorong pemanfaatan dari baterai energy storage untuk memastikan bahwa inter mitten yang terjadi bisa di-cover oleh battery energy storage tersebut," pungkas dia.