Mendunia, Unand Gandeng Filipina Kembangkan Dadih Jadi Pangan Fungsional Global
- Universitas Andalas menjalin kolaborasi riset internasional dengan University of the Philippines Diliman untuk mengembangkan dadih lewat program EQUITY.
- Riset ini memanfaatkan teknologi modern seperti spray dryer untuk mengubah dadih menjadi tepung berdaya simpan lama serta bahan baku produk pangan bergizi.
- Unand juga membangun fasilitas mini plant atau teaching factory pangan fungsional sebagai langkah hilirisasi agar produk riset bisa diserap pasar dan industri.
Universitas Andalas (Unand) Padang terus menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring riset di kancah internasional. Melalui program bertajuk Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition (EQUITY), kampus ini mendorong kolaborasi penelitian strategis dengan perguruan tinggi luar negeri. Langkah ini berfokus pada kemitraan dengan negara-negara berpendapatan rendah dan menengah bawah guna menciptakan dampak akademis yang diakui dunia.
Salah satu proyek riset yang kini menjadi sorotan adalah kerja sama antara Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unand, Prof. Dr. Helmizar, S.K.M., M.Biomed., dengan Dr. Pierangeli G. Vital dari University of the Philippines Diliman, Filipina. Kedua peneliti dari Asia Tenggara ini fokus mengembangkan dadih, yang merupakan pangan fermentasi tradisional khas Sumatera Barat. Melalui pendekatan ilmiah dan sentuhan teknologi modern, produk lokal ini diproyeksikan mampu menembus pasar global.
Tim peneliti menerapkan berbagai inovasi mutakhir, mulai dari pengkajian mendalam terhadap kandungan probiotik dadih hingga penggunaan teknologi spray dryer. Teknologi pengeringan ini berhasil mengubah dadih cair menjadi bentuk tepung dengan masa simpan yang jauh lebih lama tanpa merusak nilai gizinya. Tepung dadih inovatif ini kemudian dijadikan bahan baku utama untuk memproduksi variasi pangan fungsional baru seperti roti bergizi tinggi dan makanan pendamping ASI (MP-ASI).
'Kerja sama ini menjadi peluang untuk mengembangkan potensi pangan lokal Indonesia melalui pendekatan ilmiah yang lebih komprehensif, sekaligus memperkuat jejaring riset internasional Universitas Andalas,' ujar Prof. Helmizar dalam keterangan resminya. Dadih olahan ini juga dikombinasikan dengan pangan lokal lain seperti sorgum, ubi jalar merah, jagung, dan kacang-kacangan. Kombinasi komoditas lokal tersebut diharapkan dapat memicu diversifikasi pangan yang bernilai ekonomis tinggi bagi masyarakat.
Untuk memastikan hasil riset tidak mandek di atas kertas, Unand mengambil langkah konkret dengan membangun fasilitas mini plant atau teaching factory khusus pangan fungsional. Fasilitas modern ini dirancang sebagai pusat pembelajaran sekaligus jembatan hilirisasi produk agar dapat diadopsi oleh sektor industri. Program EQUITY ini diharapkan melahirkan produk kearifan lokal yang tidak hanya mendukung target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), tetapi juga kompetitif di pasar internasional.
Riset kolaboratif ini menjadi bukti nyata bahwa pangan tradisional Indonesia memiliki potensi ilmiah yang besar jika dikelola dengan teknologi yang tepat. Dengan dukungan fasilitas hilirisasi, dadih hasil inovasi Unand dan mitra Filipinanya berpeluang besar menjadi solusi ketahanan pangan global di masa depan.