Dilema Ekonomi Tiongkok, Antara Ambisi Pembangunan Masif dan Krisis Pengangguran Muda
- Pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang sangat pesat selama 50 tahun terakhir kini mulai menghadapi tantangan serius akibat pembangunan infrastruktur yang berlebihan.
- Konsep 'negara teknik' atau engineering state yang dianut pemerintah Tiongkok dinilai memicu malinvestasi di sektor properti.
- Kelesuan ekonomi berimbas pada tingginya angka pengangguran usia muda yang membuat banyak lulusan baru memilih untuk tidak bekerja.
Pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang sangat pesat dalam beberapa dekade terakhir kini mulai membentur tembok besar berupa tantangan ekonomi khas negara maju. Ambisi pembangunan infrastruktur yang masif mulai dari jaringan kereta cepat hingga gedung pencakar langit justru menyisakan bom waktu berupa overkapasitas dan kelesuan sektor properti. Kondisi ini memaksa negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut untuk meninjau ulang strategi perencanaan terpusatnya.
Konsep yang mendasari lompatan besar Tiongkok ini sering disebut sebagai 'negara teknik' atau engineering state, sebuah pola pikir perencanaan terpusat di mana para pemimpin meyakini mereka dapat merekayasa jalan keluar dari setiap masalah ekonomi. Namun, model ini kini menghadapi badai besar berupa malinvestasi di sektor properti yang memicu krisis finansial sistemik. Proyek-proyek megah yang dibangun tanpa perhitungan matang akhirnya menjadi kota hantu yang tidak berpenghuni di berbagai wilayah.
Mengenang masa kejayaan di awal tahun 2000-an, para pengembang properti swasta di Tiongkok sempat menikmati gelombang kekayaan yang luar biasa mewah. 'Kala itu, gaya hidup mewah dengan jet pribadi, santapan sup ikan seharga ribuan dolar, hingga praktik suap menjadi hal yang lumrah di tengah pusaran bisnis properti,' ujar jurnalis Robert Smith dalam ulasannya mengenai dinamika ekonomi Tiongkok. Kini, era keemasan tersebut telah berakhir dan berganti dengan tumpukan utang yang menggunung di berbagai perusahaan raksasa properti.
Dampak dari melambatnya roda perekonomian Tiongkok kini mulai dirasakan langsung oleh generasi mudanya melalui lonjakan angka pengangguran yang mengkhawatirkan. Banyak lulusan universitas yang kini kesulitan mendapatkan pekerjaan kerah putih yang sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka. Fenomena ini menciptakan keputusasaan mendalam di kalangan anak muda yang merasa bahwa masa depan mereka tidak lagi secerah generasi orang tua mereka.
Akibat minimnya lapangan kerja yang layak, sebagian generasi muda di Tiongkok bahkan memilih untuk menarik diri sepenuhnya dari pasar tenaga kerja atau dikenal dengan tren 'lying flat'. Sikap apatis ini menjadi sinyal bahaya bagi keberlanjutan pertumbuhan jangka panjang Tiongkok di masa depan. Pemerintah setempat kini dituntut untuk merumuskan kebijakan baru yang tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, melainkan juga pada penciptaan lapangan kerja yang berkualitas.