Penembakan Massal di Sekolah Filipina, 3 Siswa Tewas dan 7 Terluka
- Dua orang siswa bersenjata api melakukan aksi penembakan brutal di San Jose National High School, Kota Tacloban, Filipina.
- Aksi keji ini menewaskan tiga orang siswa dan melukai tujuh lainnya, dengan mayoritas korban merupakan siswi perempuan.
- Polisi berhasil mengamankan kedua pelaku yang masih berusia remaja dengan motif sementara diduga akibat menjadi korban perundungan.
Dua orang siswa yang dipersenjatai pistol nekat melepaskan tembakan secara brutal di sebuah sekolah menengah atas negeri di wilayah tengah Filipina. Insiden berdarah yang terjadi di San Jose National High School, Kota Tacloban ini menyebabkan tiga orang siswa tewas mengenaskan dan tujuh pelajar lainnya mengalami luka-luka. Pihak kepolisian setempat langsung bergerak cepat mengamankan lokasi kejadian yang menampung lebih dari 1.500 pelajar tersebut.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal oleh kepolisian setempat, kedua pelaku yang diketahui bersahabat dekat ini mengaku nekat melakukan aksi keji tersebut karena kerap menjadi korban perundungan atau bullying di sekolah. Kepala Kepolisian setempat, Capoy, mengungkapkan bahwa kedua remaja tersebut tidak memiliki rekam jejak kriminal sebelumnya. Salah satu pelaku mendapatkan pistol berkaliber 9 mm milik bibinya yang berprofesi sebagai anggota polisi, sementara pelaku lainnya menggunakan revolver kaliber 38.
Lemahnya sistem pengamanan di sekolah dituding menjadi faktor utama kedua pelaku dapat meloloskan senjata api ke dalam area kampus. Pihak berwenang menjelaskan bahwa sekolah tersebut hanya menyiagakan satu orang petugas keamanan untuk menjaga beberapa pintu akses masuk dan keluar sekaligus. Tim forensik kepolisian sejauh ini telah menemukan sedikitnya 40 selongsong peluru tajam di sekitar tempat kejadian perkara, di mana mayoritas korban tewas dan luka adalah siswi perempuan.
Kepanikan massal sempat terekam dalam sejumlah video yang beredar luas di jagat maya, memperlihatkan para siswa menjerit ketakutan dan menangis sembari bersembunyi di bawah meja kelas. Menanggapi tragedi ini, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. langsung menginstruksikan jajarannya untuk menggelar investigasi menyeluruh atas insiden tersebut. Kepala Negara juga memerintahkan aparat penegak hukum untuk segera memperketat pengamanan di seluruh lingkungan sekolah, tempat kerja, serta ruang publik guna mencegah kejadian serupa terulang.
Kedua pelaku yang berstatus di bawah umur kini diserahkan kepada petugas kesejahteraan sosial pemerintah untuk proses hukum lebih lanjut. Merujuk pada undang-undang yang berlaku di Filipina sejak tahun 2006, pelaku yang baru berusia 14 tahun berpotensi bebas dari tuntutan pidana formal karena batas minimal pertanggungjawaban pidana berada di usia 15 tahun. Meskipun kasus kriminal bersenjata cukup marak di Filipina akibat peredaran senjata ilegal, insiden penembakan massal di lingkungan sekolah tergolong sebagai peristiwa yang sangat jarang terjadi.