Ekonomi Cile Terpuruk, Pesimisme Finansial Rumah Tangga Tembus Level Terburuk dalam 12 Tahun
- Sebanyak 56 persen warga Cile menilai kondisi ekonomi rumah tangga mereka buruk, menjadi rekor tertinggi sejak Maret 2014.
- Proyeksi negatif terhadap konsumsi melonjak hingga 79 persen, sementara kekhawatiranPHK dan minimnya lapangan kerja mencapai 88 persen.
- Tingkat persetujuan terhadap kinerja ekonomi Presiden José Antonio Kast merosot ke angka 30 persen akibat inflasi dan ketidakpastian pasar.
Kondisi finansial masyarakat Cile saat ini sedang berada dalam titik nadir. Berdasarkan hasil survei Plaza Pública Cadem terbaru, sebanyak 56 persen warga Cile mengategorikan situasi ekonomi rumah tangga mereka berada dalam kondisi buruk atau sangat buruk. Angka ini menjadi rekor pesimisme tertinggi yang pernah tercatat sejak Maret 2014 silam, sekaligus menandakan adanya guncangan hebat pada daya beli riil masyarakat di tingkat akar rumput.
Jebloknya persepsi publik tidak hanya berhenti pada kondisi hari ini, melainkan juga merembet ke proyeksi masa depan negara tersebut. Ekspektasi negatif masyarakat terhadap tingkat konsumsi rumah tangga melonjak drastis hingga menyentuh angka 79 persen. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap ketersediaan lapangan kerja jauh lebih mengerikan, di mana 88 persen responden merasa pesimistis, yang merupakan level kecemasan tertinggi sejak April 2021 lalu.
Sentimen negatif ini diperparah oleh persepsi bahwa roda perekonomian nasional sedang berjalan di tempat. Hanya 17 persen dari total 1.000 responden di 167 komune yang percaya perekonomian Cile mengalami kemajuan, sementara 80 persen sisanya menilai stagnan atau bahkan mengalami kemunduran serius. Tren buruk ini telah bertahan selama 15 minggu berturut-turut, hampir menyamai catatan kelam selama masa pembatasan ketat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.
Di tengah krisis kepercayaan tersebut, cetak biru regulasi ekonomi baru yang diusulkan pemerintah juga menuai perdebatan sengit. Rancangan Undang-Undang Rekonstruksi Nasional yang digagas istana membelah opini publik dengan 44 persen menyatakan setuju dan 50 persen menolak. Warga cenderung skeptis bahwa insentif pemotongan pajak korporasi dari 27 persen menjadi 23 persen dapat berdampak langsung pada perbaikan upah kerja dan penurunan biaya hidup sehari-hari.
Secara politis, rapor merah ekonomi berimbas langsung pada tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan Presiden José Antonio Kast. Angka persetujuan umum terhadap sang presiden merosot ke level 38 persen, dengan tingkat penolakan mencapai 58 persen. Sektor ekonomi dan ketenagakerjaan menjadi bidang dengan rapor paling jeblok yang hanya mengantongi 30 persen dukungan publik, mencerminkan besarnya desakan agar pemerintah segera melakukan reformasi kebijakan.