Houthi Ancam Kepung Arab Saudi Imbas Serangan di Bandara Sanaa
- Kelompok Houthi mengancam akan membalas Arab Saudi dan meluncurkan pengepungan serupa terhadap bandara-bandara di negara tersebut.
- Pemerintah resmi Yaman mengeklaim bertanggung jawab atas serangan di Bandara Sanaa guna mencegah pesawat asal Iran mendarat.
- Houthi membuka peluang untuk menggunakan kartu strategis dengan memblokir Selat Bab al-Mandeb bagi negara-negara yang memusuhi mereka.
Kelompok pemberontak Houthi di Yaman, yang secara resmi dikenal sebagai Ansar Allah, melontarkan ancaman serius untuk mengepung Arab Saudi. Langkah ini diambil sebagai bentuk pembalasan atas serangan udara yang menghantam Bandara Internasional Sanaa pada hari Senin lalu. Pihak Houthi menuduh Arab Saudi berada di balik serangan tersebut, meskipun pemerintah Yaman yang diakui secara internasional justru mengeklaim bertanggung jawab atas aksi militer itu.
Pemerintah resmi Yaman menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan langkah preventif guna mencegah sebuah pesawat asal Iran mendarat di ibu kota yang kini dikuasai Houthi. Menanggapi situasi ini, anggota biro politik Houthi, Mohammed al-Bukhaiti, menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan tinggal diam atas serangan yang mereka yakini didalangi oleh koalisi Saudi. 'Kesiapan mereka menyerang Bandara Sanaa untuk mencegah penerbangan datang atau berangkat memberi Yaman hak untuk menyerang bandara mereka,' ujar al-Bukhaiti.
Ketegangan antara kedua belah pihak terus meruncing menyusul dibukanya kembali penerbangan publik antara Teheran dan Sanaa sejak awal Juli, yang merupakan penerbangan pertama dalam lebih dari satu dekade. Pemerintah Yaman menuduh Iran memanfaatkan jalur penerbangan ini sebagai kedok untuk memasok peralatan militer kepada Houthi. Duta Besar Yaman untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Abdullah al-Saadi, menyatakan bahwa pesawat tersebut memiliki keterkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.
Eskalasi konflik ini memicu kekhawatiran global, terutama terkait potensi penutupan Selat Bab al-Mandeb yang merupakan jalur perdagangan maritim vital di wilayah Laut Merah. Blokade di jalur ini, dikombinasikan dengan ketegangan yang sedang berlangsung di Selat Hormuz, diprediksi bakal mengguncang stabilitas ekonomi dunia. Ketika dikonfirmasi mengenai potensi penutupan jalur laut tersebut, al-Bukhaiti menegaskan bahwa segala opsi taktis kini sedang dipertimbangkan oleh komando militer Houthi.
'Kartu Bab al-Mandeb adalah aset strategis yang memiliki kemewahan untuk digunakan oleh Yaman. Kami akan menggunakan kartu ini terhadap negara-negara yang secara aktif melakukan pelanggaran terhadap kami,' kata al-Bukhaiti menambahkan. Kendati demikian, ia memastikan bahwa blokade strategis tersebut hanya akan menyasar negara-negara yang terlibat dalam permusuhan langsung, tanpa mengganggu kapal dagang dari negara-negara netral yang tidak ikut campur dalam konflik Yaman.