Pembunuhan 3 Politikus Inggris dalam Sedekade Terakhir, Alarm Bahaya Demokrasi
- Kasus pembunuhan mantan anggota parlemen Inggris, Ann Widdecombe, menandai kematian politikus ketiga di negara tersebut dalam kurun waktu satu dekade.
- Kepolisian antiteror Inggris kini memimpin investigasi dan telah menangkap seorang pemuda berusia 28 tahun atas dugaan tindakan terorisme.
- Lonjakan drastis ancaman terhadap anggota parlemen memicu kekhawatiran mendalam terhadap masa depan sistem demokrasi terbuka di Inggris.
Anggota parlemen Inggris untuk ketiga kalinya dalam kurun waktu satu dekade kembali berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir kepada rekan mereka yang tewas terbunuh. Kali ini, duka mendalam menyelimuti Inggris setelah mantan anggota parlemen dari Partai Reformasi Inggris, Ann Widdecombe, ditemukan tewas dengan luka serius di kediamannya pada pekan lalu. Insiden ini langsung memicu kekhawatiran massal di kalangan pejabat pemerintahan terkait meningkatnya gelombang kekerasan yang menyasar para aktor politik di negara tersebut.
Menteri Dalam Negeri Inggris, Shabana Mahmood, menegaskan bahwa dunia politik seharusnya menjadi ruang pengabdian, bukan sebuah profesi yang mengancam nyawa. Pihak kepolisian antiteror kini telah mengambil alih komando investigasi setelah sebelumnya menyatakan tidak ada motif politik. Seorang pemuda berkebangsaan Inggris berusia 28 tahun telah ditangkap atas dugaan awal pembunuhan yang kemudian berkembang menjadi dugaan persiapan tindakan terorisme.
Pihak kepolisian pada hari Selasa menyatakan bahwa Widdecombe merupakan korban dari "serangan yang ditargetkan". Salah satu jalur penyelidikan utama yang sedang didalami adalah apakah tersangka sengaja mengincar tokoh-tokoh dari Partai Reformasi Inggris yang berhaluan populis kanan. Rentetan peristiwa berdarah ini dinilai sebagai periode paling berbahaya bagi sejarah politik Inggris sejak berakhirnya konflik sektarian di Irlandia Utara pada akhir era 1990-an silam.
Sebelum kasus Widdecombe, publik Inggris telah diguncang oleh pembunuhan tragis Jo Cox dari Partai Buruh pada tahun 2016 oleh ekstremis sayap kanan, serta Sir David Amess dari Partai Konservatif pada tahun 2021 oleh simpatisan ISIS. Data internal menunjukkan adanya lonjakan laporan kriminalitas terhadap anggota parlemen yang menyentuh angka hampir 1.000 kasus pada tahun 2025. Angka ini meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun 2022 dan melesat sepuluh kali lipat dibandingkan tahun 2017.
Banyak pihak, termasuk suami mendiang Jo Cox, Brendan Cox, menuding ekosistem media sosial dan polarisasi politik digital sebagai bahan bakar utama dari normalisasi kekerasan ini. Dampaknya, tradisi pertemuan terbuka antara politikus dan konstituen kini mulai dibatasi secara ketat demi alasan keamanan. Perubahan lanskap politik yang semakin represif dan penuh ketakutan ini dikhawatirkan para ahli dapat merusak pilar-pilar penting demokrasi di tanah Inggris.