Loading...

Israel Ledakkan 1.100 Ton Bom di Lebanon Picu Gempa M 4,1

2026-09-11 NEWS ISRAEL, HIZBULLAH, LEBANON
Ilustrasi ledakan militer dan konflik di kawasan perbatasan

Ilustrasi ledakan militer dan konflik di kawasan perbatasan

Share:

Israel meluncurkan serangan masif dengan meledakkan lebih dari 1.100 ton bahan peledak di kompleks militer bawah tanah Hizbullah di Lebanon Selatan. Serangan brutal ini dilaporkan memicu peristiwa seismik berupa gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,1.

“Kompleks ini berisi fasilitas komando, area penyimpanan senjata, serta tempat tinggal yang dimaksudkan untuk memungkinkan para pejuang tetap berada di bawah tanah untuk waktu yang lama,", papar pihak IDF.”

— Pasukan Pertahanan Israel (IDF)

Israel meluncurkan serangan besar ke kompleks militer bawah tanah raksasa milik Hizbullah yang bersarang di bawah bukit strategis Ali al-Taher, Lebanon Selatan. Dalam aksi tersebut, Tel Aviv menggunakan lebih dari 1.100 ton bahan peledak yang secara brutal memicu peristiwa seismik tercatat sebagai gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,1.

Mengutip Military Watch, operasi ini menyoroti skala luar biasa dari infrastruktur bawah tanah yang telah dibangun oleh Hizbullah selama beberapa dekade. Lebih dari itu, serangan ini juga menunjukkan semakin vitalnya peperangan bawah tanah dalam kampanye militer Israel.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada 10 September mengumumkan bahwa mereka telah menyelesaikan penghancuran jaringan bawah tanah sepanjang dua kilometer di bawah bukit tersebut. Penghancuran massal ini dieksekusi setelah militer mengeklaim berhasil mendapat kendali operasional atas wilayah itu.

"Kompleks ini berisi fasilitas komando, area penyimpanan senjata, serta tempat tinggal yang dimaksudkan untuk memungkinkan para pejuang tetap berada di bawah tanah untuk waktu yang lama," papar pihak IDF.

Jaringan Bawah Tanah Hizbullah dan Peran Korea Utara

Jaringan bawah tanah yang dibombardir itu dilaporkan menyimpan tumpukan roket, pesawat tak berawak, serta berbagai perangkat bahan peledak. Skala ledakan yang sangat mengerikan ini turut menarik perhatian Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) yang mendeteksi peristiwa tersebut hingga kedalaman 10 kilometer.

Selama lebih dari dua dekade, Hizbullah diketahui sangat bergantung pada jaringan luas benteng bawah tanah yang dibangun khusus oleh para ahli dari Korea Utara. Fasilitas mutakhir ini dirancang agar kelompok tersebut dapat melawan pasukan Israel secara asimetris.

Keberadaan fasilitas bawah tanah tersebut terbukti sukses menghambat upaya invasi militer Israel untuk mengambil alih kendali penuh atas wilayah Lebanon Selatan sebelumnya. Hal ini memaksa Israel mencari strategi baru untuk melumpuhkan infrastruktur pertahanan lawan.

Operasi penghancuran ini sekaligus menegaskan pergeseran taktik militer modern di mana pertempuran bawah tanah menjadi penentu utama dalam keberhasilan kampanye militer lintas batas.

Kritik Tajam dan Alasan Taktis Militer Israel

Di sisi lain, gempuran gila-gilaan yang mengubah topografi ini sontak menuai badai kritik keras dan kontroversi dari berbagai pihak pemerhati lingkungan serta kemanusiaan.

"Serangan tersebut menyebabkan degradasi lingkungan yang tidak dapat diperbaiki, memperlebar celah-celah tanah yang sudah ada, serta menyebabkan kerusakan struktural pada bangunan-bangunan di dekatnya," ungkap para kritikus.

Namun demikian, efektivitas pasukan Hizbullah di medan pertempuran darat yang sangat mematikan membuat Israel merasa tidak punya banyak pilihan lain dalam menghadapi situasi tersebut.

Tingginya risiko korban jiwa membuat unit Angkatan Darat Israel berupaya keras menghindari bentrokan langsung di sekitar area benteng, yang menjadikan serangan udara berskala masif sebagai opsi paling efektif.

Leave a Comment