Loading...

Negara Kaya Minyak Krisis Energi: Listrik dan BBM Tak Ada serta Warga Demo

2026-09-04 NEWS KRISIS ENERGI, LIBYA, BBM
Antrean panjang kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum di ibu kota Tripoli, Libya

Antrean panjang kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum di ibu kota Tripoli, Libya

Share:

Krisis energi parah melumpuhkan Libya selama lebih dari enam minggu, menyebabkan kelangkaan BBM, pemadaman listrik lebih dari 10 jam sehari, dan krisis air bersih yang memicu gelombang demonstrasi warga.

“Krisis listrik Libya bukan sekadar krisis pembangkitan listrik, melainkan krisis dalam pengelolaan seluruh sistem energi," tegas Tariq Al-Tarhouni.”

— Krisis Energi Libya

Krisis energi parah yang mencakup kelangkaan bahan bakar, pemadaman listrik, hingga krisis air bersih telah melumpuhkan aktivitas di seluruh wilayah Libya selama lebih dari enam minggu terakhir. Rentetan krisis yang saling berkaitan ini tidak hanya menghancurkan perekonomian warga, tetapi juga memicu gelombang demonstrasi yang berujung pada kekerasan.

Berdasarkan laporan yang dikutip dari Xinhua pada hari Kamis (3/9/2026), antrean panjang kendaraan tampak mengular di berbagai stasiun pengisian bahan bakar di ibu kota Tripoli. Kondisi ini diperparah oleh suhu panas ekstrem yang mendekati angka 40 derajat Celcius di wilayah tersebut.

Ahmed Al-Sharif (49), seorang sopir truk, mengungkapkan bahwa dirinya terpaksa harus menunggu selama dua hingga tiga hari penuh hanya untuk mendapatkan pasokan solar. Kelangkaan ini membuat para pekerja harian kesulitan untuk menjalankan aktivitas ekonomi mereka sehari-hari.

Masalah tersebut semakin parah akibat melonjaknya harga solar di pasar gelap yang mencapai 8 dinar Libya atau sekitar US$1,26 per liter. Harga ini mencatatkan lonjakan drastis lebih dari 50 kali lipat dibandingkan dengan harga subsidi resmi pemerintah.

Dampak Krisis terhadap Sektor Bisnis dan Warga

"Jika saya membeli solar di pasar gelap, saya tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidup dengan pendapatan dari pekerjaan sehari-hari setelah membayarnya," ucap Ahmed Al-Sharif menggambarkan beban ekonomi yang harus ia tanggung.

Pemadaman listrik yang berlangsung lebih dari 10 jam sehari juga menghantam keras sektor bisnis lokal. Khaled Ibrahim (32), pemilik supermarket di Tripoli timur, menyebutkan bahwa matinya mesin pendingin telah membuat barang-barang bekunya membusuk dan air dingin tak lagi tersedia bagi pelanggan.

"Ini adalah musim terburuk bagi saya, dan saya tidak dapat bertahan dalam kondisi seperti ini," paparnya merespons kelumpuhan operasional usaha dagangnya akibat pemadaman listrik berkepanjangan.

Krisis ini bahkan merembet ke sektor perairan setelah terganggunya operasi Great Man-Made River, yakni jaringan pipa akuaduk raksasa yang memasok air tawar ke sebagian besar wilayah Libya. Rafaa Zaid, pemilik kafe di Tripoli tengah, terpaksa harus menutup total usahanya akibat kekeringan tersebut.

Respons Pemerintah dan Analisis Akar Masalah

"Setiap hari yang berlalu tanpa membuka kafe berarti kerugian lain, tapi apa yang bisa saya lakukan? Saya tidak bisa bekerja tanpa air," ungkap Rafaa Zaid menggambarkan keputusasaan para pelaku usaha kecil di tengah krisis.

Laporan Libya Herald mencatat bahwa pemadaman listrik yang meluas ini telah memicu demonstrasi berujung kekerasan, di mana warga memblokir jalan dengan membakar ban hingga membarikade gedung-gedung pemerintah menggunakan puing-puing. Menanggapi kekacauan tersebut, Ketua Perusahaan Listrik Umum Libya (GECOL) Bashir Al-Marash berjanji bahwa krisis listrik ini akan berakhir dalam dua minggu ke depan.

Di sisi lain, juru bicara Brega Petroleum Marketing Company, Ahmed Al-Masallati, menyoroti hambatan suplai yang berasal dari faktor eksternal. "Krisis global, dan khususnya gangguan pengiriman di Selat Hormuz serta dampak krisis energi global, telah menunda kedatangan beberapa pengiriman bahan bakar ke Libya," tuturnya.

Meskipun Libya memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di Afrika, negara ini sangat bergantung pada impor produk olahan karena keterbatasan infrastruktur. Pakar energi dari Universitas Omar Al-Mukhtar, Tariq Al-Tarhouni, menilai bahwa akar masalah di negara tersebut sangat kompleks dan "Krisis listrik Libya bukan sekadar krisis pembangkitan listrik, melainkan krisis dalam pengelolaan seluruh sistem energi."

Leave a Comment