Ancaman Eksistensi Guru di Era AI, YDSF Luncurkan Program Guru Gemilang Guna Cetak Pendidik Adaptif
- Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) resmi meluncurkan program pelatihan intensif bernama Guru Gemilang untuk meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik.
- Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi tantangan besar yang menuntut guru untuk terus adaptif dan meningkatkan kompetensi diri.
- Program ini akan berlangsung selama 18 bulan atau setara 1.000 jam pelatihan dengan menggandeng lembaga Kualita Pendidikan Indonesia.
Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) secara resmi memulai program Guru Gemilang sebagai langkah nyata untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru di tengah masifnya tantangan pendidikan masa depan. Inisiasi strategis ini ditandai dengan agenda Stadium General dan Kick Off yang diselenggarakan di Hotel Namira, Surabaya. Sebanyak 50 guru terpilih dari 16 sekolah swasta di wilayah Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo turut serta menjadi bagian dari gelombang pertama pelatihan intensif ini.
Hadir sebagai pembicara utama, Kepala Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Praxis Sleman Yogyakarta, Aisyah Prastowo, D.Phil., menegaskan bahwa para guru harus siap melompat dan menghadapi perubahan radikal di dunia pendidikan. Perkembangan teknologi digital yang luar biasa, khususnya penetrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), menuntut guru untuk tidak boleh berada di zona nyaman. Guru yang tidak mau meningkatkan kapasitas diri terancam akan tergilas oleh zaman dan kehilangan relevansinya di ruang kelas.
"Beberapa tahun lalu kita tidak mengira kemampuan AI seperti sekarang ini. Tantangan tidak bisa diprediksi. Dan kewajiban kita sebagai guru mengikuti tren itu," ujar Aisyah di hadapan puluhan peserta pelatihan. Ia juga memaparkan bahwa setiap guru sebenarnya memiliki modal empiris yang sangat kaya untuk terus berkembang. Pengalaman mengajar bertahun-tahun harus dijadikan pijakan utama dalam merevolusi kualitas pembelajaran sekaligus membangun ketahanan dalam beradaptasi.
Lebih lanjut, Aisyah membedah tiga modalitas mutlak yang wajib dimiliki oleh seorang guru modern agar tetap dipandang profesional dan kompeten. Ketiga pilar tersebut meliputi human capital yang berfokus pada kedalaman kompetensi dan pengetahuan akademik, social capital yang menekankan pada pentingnya kolaborasi serta jaringan relasi, hingga decisional capital yang lahir dari kebijaksanaan berbasis rekam jejak pengalaman. "Ini modal utama agar guru terus profesional dan tidak ketinggalan zaman," kata dia menambahkan.
Di sisi lain, Direktur Utama YDSF, Jauhari Sani, mengungkapkan bahwa program Guru Gemilang didesain secara komprehensif untuk memperkuat kualitas guru dari hulu ke hilir. Tidak hanya berfokus pada kecakapan teknis mengajar, program ini menyasar penguatan karakter spiritual dan aspek keteladanan yang tidak bisa digantikan oleh robot AI manapun. Kerja sama taktis ini dijalin bersama Kualita Pendidikan Indonesia (KPI) dengan durasi kontrak pelatihan mencapai 18 bulan atau setara dengan 1.000 jam pertemuan.
"Cerdas dalam mengelola pembelajaran, amanah dalam menjalankan tugas pendidikan, dan bertalenta dalam mengembangkan diri serta memberi manfaat bagi lingkungan sekitar," tutur Jauhari. Pihaknya menegaskan bahwa komitmen investasi jangka panjang pada kualitas guru ini merupakan kontribusi konkret YDSF dalam menyongsong generasi emas Indonesia. Melalui penguatan karakter pendidik, mutu pendidikan nasional diharapkan dapat terkerek naik secara signifikan.