Heboh Sekolah Sepi Peminat di Bantul, Efek Tren Anak Muda Tunda Nikah dan Punya Anak?
- Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta buka suara terkait fenomena puluhan sekolah SD dan SMP di Bantul yang kekurangan murid baru.
- Tercatat ada 12 SD dan 10 SMP swasta di Bantul yang hanya mendapatkan 0 hingga 5 orang siswa pada tahun ajaran 2026/2027.
- Faktor keberhasilan program KB serta tren anak muda menunda pernikahan dan momongan dinilai pemicu penurunan populasi usia sekolah.
Fenomena mengejutkan terjadi pada penerimaan peserta didik baru tahun ajaran 2026/2027 di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Puluhan sekolah tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) dilaporkan sepi peminat hingga kekurangan murid secara signifikan. Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul menilai situasi ini dipengaruhi oleh perubahan demografi serta pola pikir masyarakat modern.
Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, menegaskan bahwa fenomena penurunan jumlah anak usia sekolah ini tidak hanya terjadi di wilayah Bumi Projotamansari, melainkan juga melanda berbagai daerah lain di Indonesia. Menurutnya, pemicu utama dari kondisi tersebut adalah minimnya angka kelahiran akibat tingginya kesadaran masyarakat terhadap program Keluarga Berencana (KB). Selain itu, adanya pergeseran gaya hidup generasi muda yang cenderung menunda pernikahan dan momongan turut memberikan dampak nyata.
"Bisa juga karena kesadaran masyarakat terkait Keluarga Berencana (KB) semakin tinggi sehingga membatasi jumlah anak. Bahkan trennya anak muda ada yang menunda perkawinan dan menunda punya anak," ujar Aris saat memberikan keterangan kepada awak media, Minggu (19/7/2026). Ia juga mengimbau agar masyarakat tidak panik karena fenomena ini tidak terjadi secara menyeluruh di semua institusi pendidikan.
Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Bantul, tercatat ada belasan sekolah yang mengalami krisis peserta didik baru pada tahun ini. Kepala Disdikpora Bantul, Nugroho Eko Setyanto, merincikan bahwa sebanyak 12 SD baik negeri maupun swasta serta 10 SMP swasta tercatat hanya berhasil menjaring antara nol hingga lima siswa saja. Angka ini mencerminkan tren penurunan jumlah siswa yang sebenarnya sudah menggejala dalam beberapa tahun terakhir.
"Jadi sekolah SD baik negeri maupun swasta, itu yang mendapatkan antara nol hingga lima siswa ada sebanyak 12 sekolah. Sementara untuk SMP swasta yang memperoleh nol sampai lima murid saja itu ada 10 sekolah," pukas Nugroho. Pemkab Bantul kini tengah melakukan kajian mendalam untuk merumuskan langkah strategis dan pemetaan ulang terkait pemerataan fasilitas pendidikan di wilayahnya agar tidak ada anak yang terancam putus sekolah.