AS Longgarkan Aturan Emisi Truk, Hemat Biaya tapi Polusi Udara Naik
- Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) mengusulkan pelonggaran aturan emisi kendaraan berat yang sebelumnya ditetapkan era Joe Biden.
- Langkah deregulasi ini diperkirakan menghemat biaya industri truk hingga puluhan juta rupiah per mesin diesel, namun meningkatkan emisi nitrogen oksida.
- Asosiasi truk menyambut baik perubahan ini, sementara kelompok aktivis lingkungan mengecam keras karena mengancam kesehatan masyarakat.
Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) resmi mengusulkan pelonggaran aturan polusi kendaraan berat, termasuk bus dan truk besar, yang sebelumnya diperketat pada era pemerintahan Joe Biden. Langkah deregulasi di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump ini menyasar aturan yang dinilai 'tidak perlu dan tidak dapat diterapkan'. Kebijakan baru tersebut memicu perdebatan sengit antara pelaku industri transportasi logistik dan para aktivis lingkungan di negara tersebut.
Dalam usulan terbarunya, EPA berniat memangkas dan menunda dua ketentuan utama yang dirancang untuk memastikan teknologi pengurangan emisi tetap berfungsi selama kendaraan digunakan. Aturan yang dilonggarkan tersebut berkaitan dengan masa garansi mesin serta masa pakai teknologi ramah emisi pada truk baru. Selain itu, EPA juga berencana menghapus kewajiban sistem yang secara otomatis memotong daya mesin saat alat penyaring emisi rusak, lalu menggantinya dengan sistem peringatan biasa di dasbor pengemudi.
Berdasarkan analisis internal EPA, perubahan kebijakan ini sangat menguntungkan dari sisi finansial karena dapat menghemat biaya industri truk antara USD 4.130 hingga USD 6.152 (sekitar Rp 64 juta hingga Rp 96 juta) per mesin diesel yang terdampak. Namun, penghematan ini harus dibayar mahal dengan penurunan kualitas udara. Emisi gas nitrogen oksida yang memicu pembentukan ozon berbahaya dari truk diproyeksikan melonjak sebesar 4,2 persen pada tahun 2030 dan meroket hingga 11,6 persen pada tahun 2055.
Administrator EPA, Lee Zeldin, menyatakan bahwa langkah ini diambil guna memberikan ruang bagi produsen kendaraan untuk melakukan inovasi tanpa terburu-buru. 'Jika diresmikan, perubahan ini akan membantu produsen untuk terus meningkatkan kualitas kendaraan mereka tanpa dipaksa meluncurkan produk ke pasar sebelum benar-benar siap,' jelas Lee Zeldin dalam keterangan resminya. Dukungan senada juga datang dari Kelly Loeffler selaku Kepala Administrasi Bisnis Kecil AS yang menilai aturan lama era Joe Biden sangat memberatkan petani serta pengusaha kecil.
Di sisi lain, kelompok peduli lingkungan mengecam keras rencana pelonggaran emisi ini karena dianggap membahayakan kesehatan publik. Direktur Kampanye Transportasi Bersih Sierra Club, Katherine Garcia, menegaskan bahwa standar truk bersih sangat krusial untuk menyelamatkan nyawa manusia. 'Melemahkan aturan ini berarti membiarkan lebih banyak polusi beracun mencemari udara kita, dan membuat banyak keluarga harus membayar mahal dampaknya dengan kesehatan mereka,' tegas Katherine Garcia saat dihubungi media.