DPR AS Loloskan RUU Waktu Musim Panas Abadi, Tuai Kritik Para Pakar Kesehatan
- Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS resmi meloloskan Rancangan Undang-Undang Sunshine Protection Act untuk menghapus perubahan jam dua kali setahun.
- RUU ini akan memberlakukan waktu musim panas (daylight saving time) secara permanen di seluruh wilayah Amerika Serikat jika disetujui Senat.
- Para pakar kesehatan dan tidur mengkritik langkah ini dan menilai pemberlakuan waktu standar permanen jauh lebih baik untuk ritme sirkadian tubuh.
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat mengambil langkah besar dengan meloloskan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang akan memberlakukan waktu musim panas atau 'daylight saving time' (DST) secara permanen. Keputusan yang diambil pada hari Selasa waktu setempat ini dirancang untuk mengakhiri tradisi mengubah jarum jam dua kali setahun yang selama ini dikeluhkan warga. RUU yang bertajuk 'Sunshine Protection Act' ini selanjutnya harus dibawa ke tingkat Senat sebelum akhirnya bisa ditandatangani menjadi undang-undang resmi.
Upaya untuk mengabadikan waktu musim panas ini sebenarnya telah diusulkan dalam berbagai bentuk selama hampir satu dekade terakhir. Namun, momentum kali ini dinilai jauh lebih kuat karena mendapatkan dukungan bipartisan yang luas dari kedua fraksi di parlemen serta sokongan vokal dari Presiden Donald Trump. 'Sudah saatnya masyarakat berhenti mengkhawatirkan "Jam", belum lagi semua tenaga dan uang yang dihabiskan untuk produksi dua kali setahun yang konyol ini,' tulis Trump dalam unggahannya di media sosial Truth Social beberapa waktu lalu.
Sistem DST pertama kali diadopsi AS selama Perang Dunia I demi menghemat energi, tetapi baru menjadi standar nasional pada dekade 1960-an. Saat ini, hampir seluruh negara bagian di AS, kecuali Hawaii dan Arizona, memajukan jam mereka satu jam lebih awal pada bulan Maret dan mengembalikannya ke waktu standar pada pertengahan November. Meski bertujuan memaksimalkan cahaya matahari di sore hari, jajak pendapat sejak tahun 1940-an menunjukkan mayoritas warga Amerika Serikat lebih menyukai satu waktu yang konsisten sepanjang tahun ketimbang harus terus beradaptasi.
Langkah politik parlemen ini justru memicu gelombang kritik dari komunitas ilmiah dan medis yang menilai DPR AS memilih opsi yang salah. Lembaga kredibel seperti American Medical Association (AMA) dan American Academy of Sleep Medicine secara tegas menyatakan bahwa waktu standar permanen (bukan waktu musim panas) adalah solusi yang jauh lebih sehat bagi tubuh manusia. Studi terbaru dari para ilmuwan di Universitas Stanford bahkan mengungkapkan bahwa pemberlakuan DST permanen hanya memberikan dua pertiga dari total manfaat kesehatan yang bisa didapatkan jika AS memilih waktu standar permanen.
Perubahan jam dua kali setahun terbukti secara ilmiah mengganggu ritme sirkadian tubuh akibat hilangnya waktu tidur secara mendadak. Menurut American Heart Association (AHA), gangguan internal ini memicu stres pada tubuh yang berdampak pada lonjakan kasus serangan jantung dan stroke ringan dalam beberapa hari setelah transisi waktu. Selain itu, para peneliti dari Stanford memperkirakan bahwa jika AS memilih menerapkan waktu standar secara permanen, negara tersebut dapat mencegah hingga 300.000 kasus stroke dan mengurangi angka obesitas pada 2,6 juta orang.
Dampak negatif tidak hanya berhenti pada kesehatan fisik, melainkan juga merembet ke sektor kesehatan mental dan keselamatan publik. Sejumlah psikiater melaporkan adanya peningkatan kasus depresi, kecemasan, hingga risiko kecelakaan akibat kelalaian medis saat jadwal tidur para profesional terganggu. Upaya dari Komite Aturan DPR untuk mengubah draf RUU ini agar bergeser ke waktu standar permanen sesuai rekomendasi para ahli medis akhirnya berujung kegagalan setelah resmi ditolak dalam pemungutan suara.