Tragedi Jembatan Genoa Roboh Tewaskan 43 Orang, Mantan Bos Jalan Tol Italia Divonis 12 Tahun Penjara
- Pengadilan Italia menjatuhkan vonis 12 tahun penjara kepada mantan CEO Atlantia, Giovanni Castellucci, atas tragedi runtuhnya Jembatan Morandi tahun 2018.
- Tragedi runtuhnya jembatan layang setinggi 50 meter di Genoa tersebut menewaskan 43 orang setelah puluhan kendaraan terjun bebas ke dasar sungai.
- Jaksa penuntut mendakwa adanya kelalaian pemeliharaan demi mengejar keuntungan finansial perusahaan, sementara pihak pembela mengklaim adanya cacat desain awal.
Pengadilan Italia akhirnya menjatuhkan vonis hukuman 12 tahun penjara kepada mantan CEO Atlantia, Giovanni Castellucci, pada Kamis (16/7). Hukuman berat ini berkaitan erat dengan tragedi kemanusiaan robohnya jembatan layang tol Morandi di kota pelabuhan Genoa pada tahun 2018 lalu. Atlantia sendiri merupakan pemegang saham pengendali dari operator jalan tol Autostrade per l'Italia saat bencana maut itu terjadi.
Runtuhnya jembatan ikonik sepanjang 50 meter tersebut menewaskan sedikitnya 43 orang setelah kendaraan mereka terjun bebas dari ketinggian. Ruang sidang seketika dipadati oleh keluarga korban yang menuntut keadilan serta akuntabilitas atas lambatnya proses hukum di Italia untuk kasus-kasus kriminal yang kompleks. Di bawah sistem hukum Italia, putusan pengadilan tingkat pertama ini masih dapat diajukan banding setidaknya hingga dua kali ke tingkat yang lebih tinggi.
Sebelum vonis ini dijatuhkan, Castellucci sendiri sebenarnya sudah mendekam di balik jeruji besi untuk menjalani hukuman enam tahun penjara terkait insiden fatal lainnya pada tahun 2013 di jembatan layang Italia bagian selatan. Persidangan megah ini tidak hanya menyeret Castellucci, melainkan juga mendakwa 57 orang lainnya termasuk jajaran eksekutif perusahaan, insinyur, hingga pejabat kementerian transportasi setempat atas dakwaan pembunuhan tidak berencana dan kelalaian kriminal.
Jaksa penuntut umum berargumen kuat bahwa kelalaian pemeliharaan selama bertahun-tahun, pengabaian tanda-tanda kerusakan, serta penundaan perbaikan demi meraup keuntungan komersial menjadi penyebab utama bencana ini. Sebaliknya, pengacara pembela bersikeras menolak teori tersebut dan berdalih bahwa runtuhnya jembatan dipicu oleh cacat desain asli pada kabel penyangga nomor sembilan yang putus, sehingga program pemeliharaan apa pun dinilai tidak akan mampu mencegah runtuhnya struktur.
Tragedi nasional yang terjadi saat badai musim panas ini sempat memicu ketegangan hebat antara korporasi raksasa Atlantia yang dikendalikan keluarga Benetton dengan pemerintah Italia saat itu. Ketegangan tersebut baru mereda setelah Atlantia setuju untuk menjual saham pengendalinya di Autostrade. Menyusul putusan hukum tersebut, CEO Autostrade yang baru, Arrigo Giana, menyampaikan surat terbuka berisi permohonan maaf mendalam kepada seluruh keluarga korban dan masyarakat Italia atas penderitaan yang tak terhapuskan akibat tragedi tersebut.