Seorang pekerja rumah tangga (PRT) asal Filipina bernama Daisy Bucad-Eng mendapatkan warisan bernilai puluhan juta peso atau setara Rp 14 miliar dari mantan majikannya di Hong Kong. Kisah hidupnya berubah setelah mendedikasikan diri merawat sang majikan dengan penuh ketulusan.
Kisah seorang pekerja rumah tangga asal Filipina bernama Daisy Bucad-Eng pernah menjadi sorotan publik setelah ia mendapatkan warisan bernilai puluhan juta peso dari mantan majikannya di Hong Kong. Berita yang kembali mencuat ini memperlihatkan bagaimana ketulusan dalam bekerja dan merawat orang lain dapat membuahkan hasil yang tidak terduga dalam hidup seseorang.
Daisy yang berasal dari Mountain Province, Filipina, menerima warisan tersebut setelah majikannya, seorang perempuan lanjut usia asal Portugal bernama Marie, meninggal dunia pada tahun 2002 silam. Cerita perjalanan hidupnya sempat ditayangkan dalam program televisi Filipina serta diberitakan oleh berbagai media internasional.
Dalam laporan media setempat, warisan yang diterima Daisy mencakup sebuah apartemen mewah senilai 26 juta peso Filipina, saham di sejumlah perusahaan, serta uang dalam bentuk dolar yang nilainya mencapai 25 juta peso. Jika ditotal secara keseluruhan, jumlah tersebut mencapai sedikitnya 51 juta peso atau setara dengan Rp 14 miliar berdasarkan kurs pada saat itu.
Pemberian warisan fantastis ini menjadi bukti nyata atas kedekatan emosional yang terjalin antara seorang pekerja rumah tangga dan majikannya. Hubungan yang dilandasi rasa saling menghargai dan kasih sayang mengubah jalan hidup Daisy secara drastis setelah melalui masa-masa sulit di masa lalu.
Berawal dari Penjual Garam dan Pengalaman Sulit di Hong Kong
Sebelum merantau sebagai pekerja rumah tangga di Hong Kong, kehidupan Daisy jauh dari kata kemewahan dan penuh dengan perjuangan ekonomi. Daisy bahkan harus menikah di usia yang masih sangat muda yaitu 16 tahun untuk membantu menghidupi keluarganya di kampung halaman.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia sempat melakoni pekerjaan sebagai penjual garam di Mountain Province. Namun, penghasilan yang didapatkan dari berjualan garam ternyata sangat tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yang semakin mendesak.
Kondisi ekonomi yang sulit tersebut mendorong Daisy untuk mengikuti jejak warga lokal lainnya dengan memutuskan bekerja ke luar negeri sebagai pekerja rumah tangga. Kendati demikian, pengalaman awal pekerjaannya di Hong Kong tidak berjalan mulus karena ia sempat mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan.
Ia mengaku hanya mendapatkan waktu istirahat yang sangat minim, yakni sekitar dua hingga tiga jam saja setiap harinya di tempat majikan pertamanya. Situasi tersebut menguji ketahanan mental Daisy selama berjuang mencari nafkah di negeri orang.
Read Also
Indonesia dan Tujuh Negara Kecam Keras Rencana Israel Usir Warga Palestina dari Gaza
Indonesia bersama tujuh negara Arab dan mayoritas Muslim mengecam keras...
Misteri Pesawat Amazon Jatuh: Rekaman Kokpit Ungkap Fakta Mengejutkan
Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) mengungkapkan rekaman kokpit...
Konservasi Mangrove Simanja Pulihkan Ekosistem Pesisir di Cilacap
Kawasan Konservasi Mangrove Jagapati (Simanja) di Cilacap berhasil...
Kementerian PKP Genjot Target Bedah Rumah 2 Juta Unit dan Evaluasi Progres 2026
Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) berencana mengupayakan...
Marie Ikut Pulang ke Filipina dan Dirawat hingga Akhir Hayat
Titik balik kehidupan Daisy terjadi ketika ia mulai bekerja untuk Marie, seorang perempuan lanjut usia asal Portugal yang tinggal di Hong Kong. Walaupun hanya menerima gaji sekitar 900 dollar Hong Kong per bulan, Daisy merasa bahagia karena Marie memperlakukannya seperti anggota keluarga sendiri.
Kedekatan di antara keduanya semakin erat seiring berjalannya waktu, hingga pada suatu momen ketika Daisy memutuskan untuk pulang kembali ke kampung halamannya di Filipina. Marie memilih untuk ikut bersama Daisy ke Filipina karena tidak ingin menghabiskan masa tuanya di panti jompo Hong Kong.
Selama tinggal di Filipina, Daisy mendedikasikan waktunya untuk merawat Marie dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Keduanya juga sering menghabiskan waktu bersama dengan mengunjungi berbagai tempat menarik, termasuk lokasi-lokasi keagamaan di sana.
Setelah sekitar 11 tahun bekerja dan mendampingi Marie, dedikasi serta ketulusan Daisy terbalas melalui warisan berlimpah yang diberikan sang majikan. Peristiwa ini mengubah masa depan keluarganya secara permanen setelah melewati perjalanan hidup yang penuh liku.