Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) mengungkapkan rekaman kokpit dari kecelakaan pesawat kargo Amazon Prime Air di Miami yang menewaskan lima orang. Rekaman tersebut menunjukkan peringatan pilot yang diabaikan dan alarm otomatis yang berbunyi sebelum pesawat tergelincir.
“Pertanyaan besarnya adalah, mengapa mereka melanjutkan pendaratan? Mereka memiliki beberapa petunjuk bahwa pendaratan mereka tidak stabil, tetapi mereka terus melanjutkannya alih-alih berputar kembali," papar Anthony Brickhouse.”
— Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB)
Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Amerika Serikat mengungkapkan fakta mengejutkan di balik jatuhnya pesawat kargo Amazon Prime Air di Miami pada Minggu (6/9/2026). Salah satu pilot diketahui sempat memperingatkan bahwa pesawat terbang "terlalu cepat" lebih dari satu menit sebelum akhirnya mendarat secara tragis, menyapu landasan, dan menewaskan lima orang.
Pesawat Boeing 767 berusia 32 tahun yang dioperasikan oleh maskapai 21 Air yang berbasis di Miami itu akhirnya tergelincir melewati landasan pacu sejauh 1.300 kaki (396 meter) dan menabrak dua kendaraan di darat, menewaskan lima orang serta melukai lima lainnya.
Mengutip Reuters, Kamis (10/09/2026), rekaman suara kokpit menunjukkan bahwa peringatan dari salah satu pilot tersebut nyatanya diabaikan, dan pilot lainnya tidak memberikan respons lisan yang jelas.
NTSB memerinci bahwa sebelum pesawat mendarat, alarm otomatis berbunyi peringatan "tingkat penurunan, tingkat penurunan" sebanyak dua kali di kokpit karena pesawat sempat turun drastis sejauh 400 kaki dalam waktu singkat.
Kronologi dan Analisis Data Penerbangan
Data penerbangan menunjukkan bahwa 15 detik setelah mendarat, salah satu pilot sempat menyerukan pembatalan pendaratan dan tuas mesin dinaikkan ke nilai yang konsisten dengan daya dorong go-around. Saat itu, pesawat telah mendekati ujung landasan pacu tetapi masih melaju dengan kecepatan 120 knot (222 km/jam).
Nahas, empat detik kemudian, tuas justru dikurangi ke daya diam dan terdengar suara pesawat keluar dari permukaan landasan beraspal. NTSB juga tidak menemukan indikasi bahwa rem kecepatan atau pendorong balik dikerahkan untuk membantu memperlambat laju pesawat.
Konsultan Keselamatan Dirgantara, Anthony Brickhouse, mempertanyakan keputusan fatal kru dalam mengabaikan alarm peringatan yang berulang kali berbunyi tersebut. "Pertanyaan besarnya adalah, mengapa mereka melanjutkan pendaratan? Mereka memiliki beberapa petunjuk bahwa pendaratan mereka tidak stabil, tetapi mereka terus melanjutkannya alih-alih berputar kembali," paparnya.
Brickhouse menilai insiden tragis ini merupakan kegagalan total dalam hal komunikasi krusial antar kru di dalam kokpit yang memerlukan investigasi mendalam terhadap proses berpikir mereka.
Read Also
Prabowo Kembali Ganti Menkeu, Media Asing Soroti Kredibilitas Fiskal dan Kontroversi Purbaya
Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri...
Dampak Karhutla Indonesia di Asia Tenggara Meluas hingga Tiga Negara
Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera menimbulkan dampak...
Korban Keracunan MBG Sidoarjo Tembus 566 Orang dan 88 Masih Jalani Rawat Inap
Jumlah korban dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis di Sidoarjo...
Cek Daftar Bandara yang Ditutup Sementara akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika merekomendasikan penutupan...
Latar Belakang Kru dan Tanggapan Terkait
Penyelidik NTSB telah mewawancarai kapten dan perwira pertama pada Rabu sebelum merilis rincian kotak hitam. Kecelakaan maut ini merupakan penerbangan ketiga pesawat Amazon tersebut di hari yang sama, usai mengudara dari Cincinnati ke Miami, dan terbang dari Miami ke San Juan, Puerto Riko.
Terkait jam terbang, NTSB mencatat kapten berusia 55 tahun baru menerima kualifikasi tipe 767 pada bulan Mei dengan rekam jejak 7.145 jam terbang. Sementara perwira pertama berusia 37 tahun menerima kualifikasinya pada April 2025 dengan 2.655 jam terbang.
Pihak maskapai 21 Air hingga kini belum memberikan tanggapan resmi terkait rilis investigasi awal NTSB ini sejak insiden tersebut terjadi. Penyelidikan lanjutan masih terus dilakukan untuk mengungkap seluruh aspek penyebab kecelakaan.
Insiden ini memberikan sorotan tajam terhadap pentingnya manajemen sumber daya kru dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan penerbangan komersial.