Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatera menimbulkan dampak lintas batas hingga ke Malaysia, Singapura, dan Filipina. Emisi karbon akibat karhutla tahun ini bahkan telah melampaui rekor pada periode El Nino kuat tahun 2015.
“Saat ini kita sudah melihat... Emisi kebakaran yang sangat ekstrem, sebanding dengan tahun-tahun El Nino kuat sebelumnya, serta cakupan asap dan kabut asap serta dampaknya terhadap kualitas udara," ujar Mark Parrington.”
— Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Indonesia
Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan dan Sumatera tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga meluas hingga ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina. Peningkatan emisi karbon akibat bencana ini terus melonjak dan menyelimuti sebagian besar wilayah regional dengan kabut asap tebal selama berminggu-minggu.
Berdasarkan data CAMS Fire Emissions Watch, karhutla sepanjang 2026 ini telah melepaskan lebih dari 23 juta metrik ton emisi karbon dalam rentang waktu 28 Agustus hingga 3 September. Catatan tersebut secara resmi melampaui emisi kebakaran pada periode yang sama saat fenomena El Nino kuat melanda pada tahun 2015 yang mencatatkan angka 20,7 juta metrik ton.
Ilmuwan senior Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), Mark Parrington, menyoroti parahnya lonjakan emisi ekstrem tersebut. "Saat ini kita sudah melihat... Emisi kebakaran yang sangat ekstrem, sebanding dengan tahun-tahun El Nino kuat sebelumnya, serta cakupan asap dan kabut asap serta dampaknya terhadap kualitas udara," kata Parrington kepada AFP.
Ia menambahkan bahwa peningkatan emisi karbon di Indonesia yang terjadi secara signifikan sejak akhir Juli sebanding dengan tahun-tahun El Nino sebelumnya, yakni 2015 dan 2019, yang memicu kekhawatiran serius di tingkat regional.
Sebaran Lokasi, Luas Kebakaran, dan Faktor Pemicu
Titik api terbesar saat ini terkonsentrasi di wilayah Sumatera serta Pulau Kalimantan yang merupakan bagian dari kawasan hutan hujan tropis. Perkiraan independen dari portal Nusantara Atlas mencatat bahwa hampir 300.000 hektare lahan telah terbakar di Indonesia sepanjang tahun ini.
Para analis menilai fenomena cuaca El Nino—yang diproyeksikan PBB dapat menjadi yang terkuat dalam empat dekade terakhir—membuat kondisi lingkungan di wilayah Indonesia menjadi jauh lebih kering dan rentan.
Kendati demikian, pemicu utama kerusakan tetap berasal dari aktivitas manusia. Pendiri Nusantara Atlas, David Gaveau, menuding praktik pembukaan lahan dengan cara membakar sebagai penyebab utama dari bencana tahunan ini.
"El Nino tidak memicu kebakaran. Fenomena ini menciptakan kondisi kering yang memungkinkan api—bermula dari aktivitas manusia—menjalar tak terkendali dan membesar secara signifikan," ujar Gaveau kepada AFP.
Read Also
Gempa M 7,4 Guncang Kolombia, 111 Korban Jiwa, Tanggap Darurat Ditetapkan
Gempa bumi bermagnitudo 7,4 mengguncang wilayah barat Kolombia dan...
Penumpang Bawa Jenazah Tertahan 2 Hari di Bandara Soetta Akibat Abu Vulkanik
Sejumlah penumpang yang mengawal jenazah untuk dibawa ke Nias terpaksa...
Polda Metro Bantah Simpan Handphone Milik Sutrimo Terkait Kasus Kematian
Polda Metro Jaya dengan tegas membantah tudingan bahwa pihaknya menyimpan...
Kisah Daisy PRT Asal Filipina yang Kaget Dapat Warisan Rp 14 Miliar dari Mantan Majikan di Hong Kong
Seorang pekerja rumah tangga (PRT) asal Filipina bernama Daisy Bucad-Eng...
Tantangan Penanganan Lahan Gambut dan Respons Regional
Upaya pemadaman api menjadi semakin sulit karena titik kebakaran mendominasi kawasan ekosistem lahan gambut. Ekosistem lahan basah ini memiliki lapisan material organik yang terurai sebagian dan sangat mudah terbakar ketika mengering.
LSM Pantau Gambut mencatat adanya lebih dari 210.000 titik panas di kawasan lahan gambut di seluruh negeri sejak bulan Januari hingga Agustus 2026. Kondisi ini menuntut penanganan intensif dari berbagai pihak terkait guna mencegah perluasan wilayah yang terbakar.
Dampak lintas batas yang ditimbulkan membuat persoalan kabut asap ini mulai dibawa ke level diplomasi internasional. Pemerintah Malaysia dan Brunei dikabarkan berencana membawa permasalahan kabut asap dari Kalimantan ini ke forum ASEAN.
Data faktual menunjukkan bahwa luasan lahan yang terbakar telah mencapai ratusan ribu hektare dengan emisi karbon yang melampaui ambang batas normal, menuntut aksi nyata mitigasi bersama di kawasan regional.