Letak geografis Indonesia di Ring of Fire serta ancaman perubahan iklim seperti karhutla menjadi ujian atau 'stress test' bagi daya tahan bisnis dan ekonomi nasional dari sudut pandang ESG.
“Risiko lingkungan dan ekonomi yang disebabkan bencana alam dan perubahan iklim disebut sebagai faktor penting dan menjadi 'stress test' bagi daya tahan dunia usaha.”
— Salma Laiqa
Berada di pertemuan tiga lempeng tektonik besar dunia yakni Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik membuat letak geografis Indonesia masuk ke dalam wilayah Ring of Fire. Akibatnya, bencana terkait vulkanik dan gempa bumi seperti erupsi Anak Krakatau hingga gempa NTT menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi oleh Indonesia.
Selain ancaman tektonik, risiko iklim yang menyebabkan kemarau panjang serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut menjadi bahaya serius bagi keselamatan warga, perekonomian, hingga kelangsungan bisnis di tanah air.
ESG Analyst CNBC Indonesia Research, Salma Laiqa, menyebutkan bahwa berbagai risiko lingkungan dan ekonomi yang disebabkan oleh bencana alam serta perubahan iklim merupakan faktor penting yang bertindak sebagai 'stress test' bagi daya tahan dunia usaha.
Topik mengenai analisis dampak dan antisipasi risiko iklim serta bencana demi menjaga ketahanan bisnis ini dibahas secara mendalam dalam program Squawk Box di CNBC Indonesia.
Tinjauan Aspek ESG Terhadap Ketahanan Bisnis
Dari sudut pandang Environmental, Social, and Governance (ESG), berbagai kondisi ekstrem tersebut akan menguji ketahanan aset serta kegiatan operasional yang dijalankan oleh sektor bisnis di Indonesia.
Sementara itu, jika dilihat dari sisi sosial, bencana alam dan perubahan iklim secara langsung akan memberikan dampak yang signifikan terhadap para pekerja, masyarakat luas, hingga sistem kesehatan nasional.
Dari sisi governance atau tata kelola, situasi genting akibat bencana ini akan memperlihatkan sejauh mana daya tahan serta keberlanjutan dari suatu bisnis dalam menghadapi situasi darurat.
Berbagai tantangan ini menuntut perusahaan untuk memiliki perencanaan strategis yang matang agar operasional tetap dapat berjalan di tengah potensi krisis lingkungan.
Read Also
Pemandu Wisata Paksa Turis Belanja Suvenir, Dua Agen Travel di Hong Kong Diskors
Otoritas Pariwisata Hong Kong (TIA) menangguhkan izin operasional dua agen...
Jet Tempur F-4 Yunani Jatuh Meledak Saat Pertunjukan Udara
Sebuah jet tempur F-4 Phantom milik Angkatan Udara Yunani jatuh dan meledak...
Stasiun Karet Resmi Ditutup, Penumpang KRL Dialihkan ke BNI City
Stasiun Karet resmi ditutup dan seluruh pelayanan penumpang KRL dialihkan ke...
FFPM 2026 Konsolidasikan Strategi Penguatan Fasilitas Produksi Migas di Jakarta
Penyelenggaraan Forum Fasilitas Produksi Migas (FFPM) 2026 resmi berakhir...
Analisis Dampak dan Antisipasi Risiko Iklim
Dampak dari bencana alam dan perubahan iklim tidak hanya dirasakan oleh sektor industri tertentu, melainkan memberikan efek domino bagi perekonomian makro di Indonesia.
Berbagai pihak, termasuk para pelaku usaha dan pengamat ekonomi, terus memantau langkah mitigasi yang diterapkan untuk meminimalisir kerugian akibat bencana vulkanik maupun karhutla.
Harapan ke depan, dunia usaha dapat memperkuat mitigasi risiko berbasis prinsip ESG guna menghadapi ketidakpastian iklim dan geografis yang kian tinggi.
Ulasan lengkap mengenai analisis dampak dan antisipasi risiko iklim serta bencana ini dipandu oleh presenter Andi Shalini bersama ESG Analyst CNBC Indonesia Research, Salma Laiqa, pada Rabu, 9 September 2026.