Bumi Diprediksi Masuk Periode Terpanas pada 2030, Pakar Lingkungan Desak Aksi Nyata
- Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memprediksi periode 2026-2030 akan menjadi salah satu waktu terpanas dalam sejarah bumi.
- Pakar Keairan dan Lingkungan UMY, Nursetiawan, mendesak pemerintah Indonesia untuk segera mengambil langkah mitigasi yang serius.
- Perubahan iklim telah merusak siklus hidrologi global, sehingga ketersediaan air bersih kini menjadi semakin sulit untuk diprediksi.
Pakar Keairan dan Lingkungan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Nursetiawan, mengingatkan semua pihak mengenai ancaman nyata perubahan iklim. Berdasarkan laporan terbaru dari Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO), periode tahun 2026 hingga 2030 diprediksi akan menjadi kurun waktu terpanas sepanjang sejarah peradaban manusia. Fenomena kenaikan suhu global ini dinilai bukan lagi sekadar prediksi di atas kertas, melainkan ancaman nyata yang sedang melanda berbagai belahan dunia.
Mengacu pada data komprehensif yang dirilis oleh WMO, Nursetiawan memaparkan bahwa peluang suhu rata-rata bumi untuk melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius dibandingkan era pra-industri kini telah mencapai angka yang sangat mengkhawatirkan. Menurut kalkulasi para ilmuwan di organisasi tersebut, probabilitas kenaikan ekstrem ini menyentuh angka 86 persen, setidaknya untuk satu tahun dalam periode lima tahun ke depan. Lonjakan suhu ini diperkirakan akan memicu berbagai bencana alam global yang jauh lebih destruktif.
'Prediksi WMO ini harus menjadi perhatian serius negara, termasuk Indonesia,' ucap Nursetiawan saat memberikan keterangan di Yogyakarta. Dirinya menambahkan bahwa masyarakat di tanah air sebenarnya sudah bisa merasakan indikasi tersebut secara langsung. 'Kita sudah merasakan peningkatan suhu dari tahun ke tahun,' lanjutnya lagi sembari menekankan pentingnya respons cepat dari pengambil kebijakan.
Kenaikan suhu global yang ekstrem ini dinilai berdampak langsung terhadap stabilitas alam, terutama dari perspektif keairan dan lingkungan hidup. Udara yang semakin panas secara masif mengubah siklus hidrologi global yang selama ini menjadi penopang ketersediaan air bersih bagi manusia. 'Perubahan iklim yang terjadi saat ini telah memengaruhi siklus hidrologi global, sehingga pengelolaan sumber daya air tidak bisa hanya mengandalkan pola iklim masa lalu,' jelas Nursetiawan secara mendalam.
Sebagai informasi, siklus hidrologi merupakan proses alami vital yang mengatur pergerakan air di bumi mulai dari curah hujan, penguapan, infiltrasi ke dalam tanah, hingga aliran menuju sungai dan laut lepas. Ketika suhu bumi terus meroket tanpa kendali, keseimbangan alami dari siklus tersebut dipastikan ikut bergeser secara ekstrem. Dampak buruknya tidak hanya terbatas pada meningkatnya intensitas hujan ekstrem pada waktu tertentu, melainkan juga kekeringan panjang yang membuat distribusi air bersih menjadi kian langka dan sulit diprediksi.