Aksi Lucy Atim, Perempuan Uganda Sulap Limbah Shea Menjadi Energi Bersih
- Aktivis lingkungan Lucy Everlyn Atim mendirikan Moyao Africa Initiative di Uganda untuk memproduksi briket bahan bakar dari limbah kulit pohon shea.
- Langkah ini diambil guna menekan laju penebangan liar pohon shea yang marak dijadikan arang konvensional oleh produsen lokal.
- Inisiatif tersebut kini telah memberdayakan lebih dari 1.200 perempuan di Distrik Alebtong untuk memproduksi briket sekaligus meningkatkan pendapatan mereka.
Seorang aktivis lingkungan asal Uganda, Lucy Everlyn Atim, mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan populasi pohon shea yang kian terancam di negaranya. Melalui lembaga sosial Moyao Africa Initiative yang didirikannya pada tahun 2023, ia berhasil mengubah limbah kulit luar buah shea menjadi briket bahan bakar ramah lingkungan. Inovasi ini hadir sebagai solusi konkret di tengah tingginya angka penebangan liar pohon shea di wilayah Uganda utara yang kerap dijadikan bahan baku arang konvensional oleh warga setempat.
Keprihatinan Atim bermula saat dirinya kembali ke kampung halamannya di Distrik Alebtong setelah enam tahun bertugas sebagai aktivis hak anak di pemukiman pengungsi Sudan Selatan. Ia terkejut lantaran pohon shea favorit masa kecilnya telah hilang ditebang. 'Saya sangat prihatin. Kerusakan pohon shea saat ini sudah berada di tingkat yang mengkhawatirkan. Pohon-pohon ini perlu dilindungi, namun di sisi lain masyarakat juga membutuhkan sumber bahan bakar alternatif,' ujar Atim saat diwawancarai oleh Al Jazeera.
Berdasarkan riset dari Universitas Makerere, populasi pohon shea dewasa di lahan terbuka menurun drastis dari rata-rata 20 pohon per hektare pada 2008 menjadi hanya berkisar 10 hingga 15 pohon pada 2017. Dr Patrick Byakagaba selaku peneliti lingkungan yang memimpin studi tersebut mengungkapkan bahwa pelacakan data penurunan ini tergolong sulit. Pasalnya, para produsen arang ilegal kerap mencabut pohon hingga ke akar-akarnya tanpa menyisakan tunggul untuk dihitung.
Melalui Moyao Africa Initiative, Atim kini telah memberdayakan lebih dari 1.200 perempuan yang terbagi dalam berbagai kelompok simpan pinjam di Alebtong. Para perempuan ini dilatih untuk mengumpulkan limbah buah shea, menumbuknya, lalu mencampurnya dengan tanah liat dan pasta singkong sebagai perekat sebelum dicetak menjadi briket. Upaya ini dinilai efektif karena beban penyediaan bahan bakar memasak di sebagian besar rumah tangga Afrika umumnya berada di pundak kaum perempuan.
Pakar energi terbarukan, Bosco Odyek, menilai langkah memanfaatkan limbah shea menjadi briket sebagai alternatif praktis yang sangat baik. Ia menyarankan penggunaan mesin karbonisasi agar briket yang dihasilkan bisa menyala lebih efisien dan bebas asap. Saat ini, Atim sedang berupaya mengumpulkan dana sekitar USD 530 untuk membeli mesin penghancur dan pencetak briket modern agar bisa terus berproduksi sepanjang tahun tanpa bergantung pada musim panen buah shea semata.