Seorang mantan karyawan perusahaan teknologi NCS asal India dijatuhi hukuman penjara akibat menghapus 180 server virtual. Tindakan destruktif ini dilakukan karena pelaku merasa sakit hati dan tidak terima atas pemutusan hubungan kerjanya.
“"Kami berkomitmen untuk menjaga keamanan sistem, dan ini adalah sistem pengujian mandiri tanpa informasi sensitif," ujar pihak NCS.”
— Kandula Nagaraju
Pemutusan hubungan kerja berujung pada aksi sabotase digital yang dilakukan oleh seorang mantan karyawan asal India bernama Kandula Nagaraju. Pria berusia 39 tahun tersebut nekat kembali mengakses sistem perusahaan tempatnya dulu bekerja dan menghapus ratusan server virtual. Tindakan ilegal ini memicu kerugian finansial yang sangat masif bagi perusahaan.
Nagaraju melakukan aksi pengrusakan tersebut setelah tidak lagi terikat kontrak dengan perusahaan teknologi asal Singapura, NCS. Ia memanfaatkan celah akses lama yang masih dimilikinya untuk menyusup ke dalam sistem pengujian perusahaan. Dari sana, pelaku mengeksekusi perintah yang mengakibatkan sebanyak 180 server virtual musnah seketika.
Akibat perbuatan destruktif tersebut, pihak perusahaan ditaksir mengalami kerugian finansial sekitar S$918.000 atau setara dengan Rp16,19 miliar. Kasus pelanggaran berat ini langsung berlanjut ke jalur hukum hingga pelaku divonis hukuman penjara selama dua tahun delapan bulan.
Dalam proses persidangan, terungkap bahwa motif utama di balik aksi kriminal tersebut adalah rasa kecewa yang mendalam akibat pemutusan kontrak kerja. Pelaku merasa tidak terima karena menganggap kinerjanya sudah sangat baik selama bergabung dengan perusahaan.
Latar Belakang dan Kronologi Aksi Sabotase
Kandula Nagaraju sebelumnya sempat menjadi bagian dari tim beranggotakan 20 orang yang bertugas mengelola sistem komputer jaminan kualitas di NCS. Sistem tersebut difungsikan secara khusus untuk menguji berbagai perangkat lunak serta program baru sebelum resmi diluncurkan ke publik.
Kontrak kerja pelaku dihentikan pada Oktober 2022 akibat penilaian kinerja yang buruk, dengan hari kerja terakhir jatuh pada tanggal 16 November 2022. Dokumen pengadilan mencatat bahwa pelaku merasa bingung serta kesal karena harus kembali ke India tanpa pekerjaan baru.
Setelah kembali ke India, pelaku mulai melancarkan akses ilegal pertamanya menggunakan kredensial login administrator secara bertahap antara Januari hingga Maret 2023. Ia bahkan sempat menyewa kamar di Singapura pada Februari 2023 untuk mempermudah akses jaringan internet.
Puncak kejadian terjadi pada tanggal 18 dan 19 Maret 2023 ketika pelaku menjalankan skrip khusus yang diprogram untuk menghapus 180 server virtual secara berurutan. Tim internal NCS baru menyadari gangguan masif tersebut keesokan harinya setelah sistem mendadak tidak dapat diakses.
Read Also
Kebutuhan Listrik Pusat Data Meningkat Industri Dorong Standar Baru Ekosistem Elektrikal
Pertumbuhan ekonomi digital dan adopsi kecerdasan buatan memicu lonjakan...
Tesla Maut Berhenti Mendadak di Jalan Tol Kembali Soroti Teknologi Autopilot
Sejumlah kecelakaan maut yang melibatkan mobil Tesla kembali menjadi sorotan...
OpenAI Siapkan Tombol Penghentian Darurat Setelah Insiden AI Kabur
OpenAI mulai mengembangkan kemampuan penghentian otomatis untuk mematikan...
Alasan China Pajang Wajah Ilmuwan di Billboard Raksasa Kota
Alih-alih iklan komersial, sudut-sudut strategis perkotaan di China dipenuhi...
Penyelidikan Polisi dan Dampak Kerugian Perusahaan
Tim investigasi internal NCS yang gagal memperbaiki sistem akhirnya memutuskan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum pada tanggal 11 April 2023. Mereka menyerahkan berbagai temuan alamat IP dan bukti digital kepada pihak kepolisian setempat.
Pihak kepolisian segera bergerak cepat dengan menyita laptop pribadi milik pelaku yang di dalamnya tersimpan berbagai kode skrip perusak. Hasil penyelidikan digital membuktikan bahwa pelaku sengaja mencari referensi pembuatan skrip penghapusan data tersebut melalui mesin pencari Google.
Pihak NCS memberikan klarifikasi resmi bahwa sistem yang menjadi sasaran perusakan merupakan area pengujian mandiri yang terisolasi. Mereka memastikan sama sekali tidak ada informasi atau data sensitif milik klien yang tersimpan di dalam server virtual yang dihapus tersebut.
Total kerugian material yang harus ditanggung oleh perusahaan akibat aksi balas dendam mantan karyawan ini mencapai angka persis S$917.832. Kasus ini sekaligus menjadi peringatan keras bagi industri teknologi mengenai pentingnya pencabutan akses kredensial pasca-PHK.