Pidato Pemilu Trump Picu Kegaduhan Besar, Demokrat dan Republik Saling Serang
- Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato kontroversial terkait dokumen rahasia yang mengklaim adanya ancaman pemilu dari negara asing dan internal pemerintah.
- Kubu Demokrat merespons keras dengan menyebut pidato Trump sebagai upaya menyebar konspirasi demi menutupi kekalahan masa lalu dan kegagalan ekonomi.
- Kubu Republik membela Trump dan mendesak Kongres segera mengesahkan SAVE America Act untuk memperketat keamanan pemilu federal.
Ketegangan politik di Amerika Serikat kembali memuncak menjelang pemilihan paruh waktu yang krusial. Pidato utama Presiden Donald Trump pada Kamis malam waktu setempat memicu reaksi keras yang terbagi tajam di antara dua kubu politik utama. Dalam pidatonya, Trump membeberkan deretan dokumen rahasia negara yang diklaimnya membuktikan adanya kerentanan besar dalam sistem pemilu serta intervensi dari pihak asing.
Trump secara blak-blakan menuduh bahwa musuh-musuh besar Amerika Serikat seperti Rusia, Tiongkok, Iran, dan Korea Utara memiliki kemampuan untuk meretas infrastruktur pemilu negara tersebut. Tidak hanya itu, ia juga menuding keberadaan kelompok "deep state" di dalam tubuh pemerintahannya sendiri sengaja menyembunyikan informasi intelijen terkait intervensi Tiongkok pada pemilu 2018 dan 2020. Tudingan serius ini langsung memicu perdebatan sengit karena disampaikan kurang dari empat bulan sebelum pemilu paruh waktu digelar.
Respons menohok datang dari Pemimpin Minoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, yang langsung menyerang balik di media sosial. Schumer menegaskan bahwa rancangan undang-undang pemilu yang didorong Trump dipastikan akan kandas di tingkat senat. "SAVE Act sudah mati saat tiba di Senat," ketus Schumer seraya menambahkan bahwa pidato sang presiden hanyalah sebuah upaya menyedihkan untuk menyangkal kekalahannya di masa lalu.
Schumer menilai Trump sengaja mengalihkan isu dari masalah mendasar yang sedang dihadapi masyarakat Amerika Serikat saat ini seperti inflasi dan mahalnya biaya kesehatan. Menurutnya, masyarakat lebih membutuhkan solusi nyata ketimbang teori konspirasi. "Sangat menyedihkan melihat presiden ini berkubang dalam keluhan, balas dendam, dan konspirasi ketika rakyat Amerika ingin pemimpin mereka dengan berani mengatasi inflasi yang terus berlanjut, harga bahan makanan yang mahal, kenaikan harga bensin, dan pemotongan mengerikan pada layanan kesehatan yang terjangkau," tutur Schumer.
Di sisi lain, sekutu politik Trump dari Partai Republik langsung pasang badan membela pernyataan presiden. Kepala Departemen Keamanan Dalam Negeri, Markwayne Mullin, menyatakan dukungannya dan mengungkapkan bahwa instansinya telah mengidentifikasi ratusan ribu pemilih ilegal di beberapa negara bagian. "Keamanan pemilu adalah keamanan nasional. Hanya warga Amerika yang boleh memilih pemimpin Amerika," tegas Mullin melalui akun media sosial pribadinya, mendukung langkah pengetatan aturan pemilu yang diusulkan Trump.