Buku Dianggap Racun, Hong Kong Murka dan Grebek Toko Buku Independen!
- Menteri Keamanan Hong Kong Chris Tang memperingatkan para penjual buku agar memastikan produk mereka tidak membahayakan keamanan nasional setelah gelombang penggerebekan terbaru.
- Pihak kepolisian Hong Kong telah menangkap lima orang dari dua toko buku independen atas tuduhan menjual dan memajang publikasi yang bersifat menghasut atau sedisi.
- Presiden Taiwan Lai Ching-te mengkritik keras tindakan tersebut dan menyatakan bahwa kebebasan berekspresi serta penerbitan di Hong Kong kini berada di bawah tekanan besar.
Otoritas keamanan tertinggi Hong Kong melayangkan peringatan keras kepada para pemilik toko buku di wilayah tersebut untuk memastikan bahwa literatur yang mereka jual tidak merusak stabilitas keamanan nasional. Langkah tegas ini diambil hanya berselang satu hari setelah aparat kepolisian melakukan penggerebekan besar-besaran dan menahan lima orang yang terkait dengan dua toko buku independen ternama. Operasi kepolisian yang berlangsung pada Rabu waktu setempat tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai semakin sempitnya ruang kebebasan berpendapat di kota tersebut.
Menteri Keamanan Hong Kong, Chris Tang, menegaskan di hadapan para jurnalis di gedung legislatif bahwa aturan hukum yang berlaku saat ini sudah sangat jelas dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Beliau mengibaratkan tanggung jawab para penjual buku tersebut layaknya para pedagang makanan yang wajib menjaga keselamatan konsumen mereka dari zat berbahaya. "Jika Anda adalah seorang penjual buku, Anda memiliki tanggung jawab untuk memastikan buku yang Anda jual tidak membahayakan keamanan nasional," ujar Chris Tang memberikan analogi yang menohok.
Lebih lanjut, Chris Tang juga menyatakan bahwa analogi tersebut setara dengan kewajiban memastikan makanan yang dijual tidak menyebabkan sakit perut, bukan racun, atau bukan barang ilegal. Ketika didesak oleh awak media mengenai kemungkinan pemerintah merilis daftar resmi buku-buku yang dilarang, Chris Tang menolak usulan tersebut dengan alasan hal itu justru akan menghambat efektivitas penegakan hukum terhadap buku-buku yang berniat merusak negara. "Kami tidak akan membiarkan para pelaku kriminal lolos begitu saja dengan cara seperti itu," tuturnya menambahkan.
Dalam operasi terbaru, kepolisian setempat menggeledah toko buku "Have A Nice Stay" yang didirikan oleh mantan jurnalis, serta "Greenfield Book Store" yang legendaris. Pihak kepolisian menyatakan kelima orang yang ditangkap diduga kuat telah memajang materi sedisi dan menjual publikasi yang bersifat menghasut masyarakat. Berdasarkan pernyataan resmi kepolisian, konten di dalam buku-buku tersebut disinyalir sengaja dirancang untuk membangkitkan rasa benci terhadap pemerintah kota, lembaga peradilan, hingga aparat penegak hukum.
Tekanan politik yang luar biasa ini rupanya berimbas langsung pada kelangsungan bisnis literatur di Hong Kong, di mana toko "Have A Nice Stay" sendiri telah mengumumkan akan gulung tikar pada akhir Agustus mendatang akibat ketidakpastian garis merah hukum. Situasi mencekam ini juga memancing reaksi keras dari Taiwan, di mana Presiden Lai Ching-te mengkritik bahwa kebebasan berekspresi di Hong Kong tengah berada di ujung tanduk. "Setiap toko buku independen memiliki peran yang sangat vital dalam menjaga pemikiran yang bebas," tulis Lai Ching-te dalam sebuah pernyataan resmi.