Nyawa Terancam Terus, Donald Trump Malah Sering Jadikan Rencana Pembunuhan Dirinya Bahan Candaan
- Meskipun menghadapi ancaman pembunuhan nyata dari pihak domestik dan Iran, Donald Trump secara pribadi jarang membahasnya dengan serius.
- Trump kerap melontarkan candaan fatalistik mengenai risiko pekerjaannya sebagai presiden, bahkan saat berada di situasi berbahaya.
- Ajudan dekat menegaskan bahwa ancaman konstan terhadap nyawanya tidak memengaruhi keputusan kebijakan politik luar negeri Trump.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara mengejutkan kerap bersikap santai bahkan berseloroh mengenai berbagai ancaman pembunuhan yang mengintai dirinya. Meskipun intelijen AS terus mendeteksi ancaman nyata dari pihak domestik maupun asing, Trump dikabarkan jarang membahas hal tersebut secara serius di balik pintu tertutup. Sikap fatalistik yang dianutnya justru semakin mendalam pasca-insiden penembakan yang hampir merenggut nyawanya di Butler, Pennsylvania, beberapa tahun silam.
Ancaman pembunuhan terhadap Trump paling santer datang dari Teheran, Iran, yang bermula sejak ia memerintahkan serangan drone fatal terhadap jenderal top Iran, Qassem Soleimani, pada tahun 2020. Ketegangan ini sempat memuncak dalam kunjungannya ke Turki baru-baru ini, di mana Trump berganti pesawat kepresidenan Air Force One akibat kekhawatiran sistem pertahanan udara. "Ia sering berkata secara pribadi, tidak ada yang memberi tahu saya betapa berbahayanya menjadi presiden, dan jika mereka memberi tahu saya, saya mungkin tidak akan mencalonkan diri," ungkap seorang pejabat Gedung Putih menirukan candaan Trump.
Sikap tak acuh Trump terhadap keselamatannya sendiri juga terlihat jelas saat menghadiri acara tarung bebas UFC di halaman Gedung Putih bersama komentator ternama Joe Rogan. Saat Rogan memperingatkan potensi serangan teroris di tengah keramaian acara tersebut, Trump justru menjawab dengan santai, "Kita harus pergi dengan suatu cara!" untuk menggambarkan kepasrahannya terhadap takdir. Ironisnya, aparat penegak hukum AS kemudian mendakwa delapan orang yang diduga merencanakan plot serangan berbahaya yang menyasar jalannya acara tersebut.
Tidak hanya itu, Trump juga sempat bersikeras untuk tetap naik ke atas panggung setelah seorang pria bersenjata menyusup ke acara White House Correspondents' Dinner awal tahun ini. Meski tim pengamanan Secret Service melarangnya demi keamanan, Trump sempat melayangkan protes keras sebelum akhirnya menyerah dan menjadikan insiden itu sebagai bahan lelucon publik keesokan harinya. Senator AS, John Kennedy, menegaskan bahwa ancaman dari Iran ini sangat nyata dan bukan sekadar gertakan belaka karena mereka memang memiliki misi jangka panjang untuk mengincar Trump.
Kendati hidup di bawah bayang-bayang ancaman pembunuhan, para pembantu dekat Trump menegaskan situasi ekstrem ini sama sekali tidak memengaruhi arah kebijakan politik luar negerinya. Ancaman konstan tersebut justru dinilai semakin memperkuat tekad politik sang presiden dan mempertegas keyakinannya mengenai perannya dalam sejarah dunia. Sejumlah sejarawan kepresidenan menilai bahaya fisik yang dihadapi Trump merupakan risiko tak terhindarkan yang melekat pada setiap pemimpin negara adidaya tersebut.