Mantan Penjual Buku Hong Kong Lam Wing-kee Meninggal Dunia di Taiwan
- Mantan penjual buku terkenal asal Hong Kong, Lam Wing-kee, dilaporkan meninggal dunia di Taiwan dalam usia 70 tahun setelah berjuang melawan penyakit kanker.
- Lam menjadi simbol global penentangan terhadap pembungkaman berekspresi oleh Beijing setelah dirinya sempat diculik dan ditahan otoritas China pada tahun 2015.
- Presiden Taiwan Lai Ching-te menyampaikan belasungkawa mendalam dan memuji keberanian Lam dalam menyuarakan betapa berharganya arti sebuah kebebasan.
Lam Wing-kee, mantan penjual buku asal Hong Kong yang menjadi simbol perlawanan terhadap pembungkaman kebebasan berpendapat oleh pemerintah China, dilaporkan meninggal dunia di Taiwan pada usia 70 tahun. Berdasarkan laporan dari Kantor Berita Pusat Taiwan (CNA) yang mengutip sumber tepercaya, Lam mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Memorial MacKay, Taipei. Meski penyebab kematiannya tidak dirinci secara spesifik, Lam diketahui mengalami kekambuhan penyakit kanker sejak tahun lalu.
Sebelum dinyatakan wafat, kondisi kesehatan Lam terus menurun hingga akhirnya ia dilarikan ke rumah sakit pada hari Selasa. Pria yang vokal menyuarakan demokrasi ini kemudian dilaporkan jatuh koma pada hari Rabu sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Kamis malam waktu setempat. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi para aktivis pro-demokrasi di Hong Kong maupun Taiwan yang selama ini menjadikannya figur inspiratif dalam melawan tekanan politik Beijing.
Nama Lam Wing-kee mulai dikenal luas di panggung internasional setelah ia menjadi satu dari lima penjual buku dari toko Causeway Bay Books yang hilang secara misterius pada akhir tahun 2015. Lam kemudian mengungkapkan kepada publik bahwa dirinya diculik oleh otoritas China daratan saat melintasi perbatasan dari Hong Kong ke Shenzhen. Ia dibawa dengan kereta api dalam kondisi mata tertutup selama 13 jam ke kota Ningbo dan disekap di sebuah ruangan di bawah pengawasan ketat selama lima bulan tanpa proses hukum yang jelas.
Penculikan tersebut memicu kecaman keras dari berbagai belahan dunia karena dianggap sebagai bukti nyata intervensi Beijing terhadap otonomi kebebasan sipil yang dijanjikan kepada Hong Kong. Khawatir akan keselamatan dirinya akibat pengetatan hukum keamanan nasional di Hong Kong, Lam memutuskan untuk melarikan diri dan menetap di Taipei, Taiwan, pada tahun 2019. Di ibu kota Taiwan tersebut, ia kembali membuka toko bukunya dengan nama yang sama pada tahun 2020 sebagai simbol bahwa perjuangannya belum padam.
Presiden Taiwan Lai Ching-te langsung menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas kepergian sang aktivis melalui unggahan resmi di media sosial pribadinya. 'Kepergian Tuan Lam Wing-kee sangat menyedihkan, namun keberanian yang ia tinggalkan tidak akan pernah pudar,' tulis Lai. Ia juga menegaskan bahwa rakyat Taiwan akan selalu mengingat kontribusi Lam yang secara sederhana namun teguh mengingatkan dunia mengenai betapa berharganya sebuah demokrasi dan kebebasan berpendapat.
Sebelum meninggal dunia, Lam sempat mengumumkan penutupan sementara toko buku miliknya di Taipei pada Juni lalu karena kondisi kesehatannya yang terus memburuk dan tidak dapat memastikan kapan toko tersebut akan kembali beroperasi. Sementara itu, situasi kebebasan pers dan penerbitan di Hong Kong sendiri terus mengalami tekanan berat. Aparat kepolisian setempat bahkan baru-baru ini menangkap dua orang yang dituduh menjual publikasi bermuatan hasutan di bawah payung hukum keamanan nasional yang baru diterapkan.