Kyiv Mencekam, Rusia Lancarkan Serangan Rudal Balistik Terbesar Sejak Awal Perang
- Rusia meluncurkan gelombang serangan rudal balistik terbesar ke ibu kota Ukraina, Kyiv, sejak awal konfrontasi militer dimulai.
- Serangan udara hebat ini menyebabkan satu orang tewas, 16 lainnya luka-luka, dan memicu kebakaran hebat di enam distrik kota Kyiv.
- Ukraina menghadapi situasi sulit akibat krisis pasokan rudal pencegat Patriot untuk menghalau gempuran udara Rusia.
Militer Rusia kembali meluncurkan serangan udara besar-besaran yang mencekam ke ibu kota Ukraina, Kyiv. Menurut laporan dari Menteri Luar Negeri Ukraina, gelombang serangan ini menjadi operasi rudal balistik terbesar yang pernah diluncurkan Moskow sejak awal pecahnya perang. Gempuran yang berlangsung selama berjam-jam pada Minggu dini hari tersebut langsung melumpuhkan beberapa sektor kota.
Otoritas setempat melaporkan bahwa serangan brutal ini menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai 16 warga lainnya. Kepolisian Nasional Ukraina mengonfirmasi bahwa dampak kerusakan menyebar luas hingga mencakup enam distrik di Kyiv. Layanan Darurat Negara juga bergerak cepat untuk memadamkan kobaran api yang melahap bangunan tempat tinggal, perkantoran, kawasan industri, hingga asrama warga.
Bombardir terbaru ini semakin mempertegas tantangan berat yang dihadapi Ukraina pada tahun kelima perang. Pasukan Kiev kini harus berjuang menahan serangan harian Rusia di tengah krisis akut pasokan rudal pertahanan udara Patriot. Padahal, sistem Patriot buatan Amerika Serikat tersebut merupakan andalan utama mereka untuk menjatuhkan rudal balistik canggih milik Rusia.
Kondisi di dalam negeri Ukraina juga kian memanas akibat ketegangan politik domestik. Keputusan Presiden Volodymyr Zelenskyy memecat Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov memicu gelombang protes di jalanan dan kekecewaan di kalangan prajurit garis depan. Beberapa kritikus bahkan menilai perombakan kabinet ini sebagai kesalahan paling fatal dalam masa kepresidenan Zelenskyy di saat Ukraina sedang mencoba mempertahankan momentum perang.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, mengutuk keras aksi tersebut dan menyebutnya sebagai serangan teroris yang sangat brutal. Bersamaan dengan itu, serangan drone Rusia juga dilaporkan menghantam wilayah Dnipropetrovsk dan Zaporizhia, hingga menewaskan seorang kondektur kereta api. Menanggapi situasi kritis ini, Presiden AS Donald Trump menyatakan kesiapannya untuk memberikan lisensi agar Ukraina dapat memproduksi rudal pencegat Patriot secara mandiri, walau linimasa keputusannya belum dipastikan.