Putin Bohong Besar, Klaim Kuasai Kota Kostyantynivka padahal Tentara Rusia Dibantai Habis
- Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menduduki kota strategis Kostyantynivka di wilayah Donbas pada awal Juli.
- Bukti video dari garis depan dan analisis pemetaan independen menunjukkan bahwa pasukan Ukraina masih bertahan dan mengendalikan pusat kota.
- Rusia dilaporkan rela kehilangan hingga 35.000 tentara setiap bulan demi mengejar ambisi teritorial yang sangat kecil.
Klaim sepihak Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai keberhasilan pasukannya merebut kota Kostyantynivka di Ukraina Timur ternyata hanya isapan jempol belaka. Kementerian Pertahanan Rusia sebelumnya memamerkan video sejumlah tentara yang mengibarkan bendera Kremlin di beberapa sudut kota pada tanggal 3 Juli lalu untuk mengumumkan kemenangan mereka. Namun, serangkaian bukti video terbaru dan kesaksian dari garis depan justru memperlihatkan bahwa pasukan Moskow sedang mengalami pembantaian besar-besaran dan belum berhasil menguasai kota strategis tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky langsung bereaksi keras terhadap propaganda murahan yang diluncurkan oleh Kremlin. Dengan nada menyindir, Zelensky menantang Putin untuk datang langsung dan menemuinya di pusat kota Kostyantynivka guna membahas perdamaian jika wilayah itu memang benar-benar sudah jatuh ke tangan Rusia. Nyatanya, peta pergerakan militer independen dari Deep State menunjukkan bahwa pertempuran sengit masih berlangsung di wilayah zona abu-abu dan pusat kota masih aktif dikendalikan oleh militer Ukraina.
Analisis intelijen militer Barat mengungkapkan bahwa ambisi Putin untuk merebut kota seluas 66 kilometer persegi ini harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Rusia dilaporkan menoleransi kerugian mengerikan dengan catatan korban mencapai 35.000 tentara yang tewas atau terluka setiap bulannya akibat taktik serangan gelombang manusia yang brutal. "Musuh hanya melukis kemenangan di atas layar kaca, tetapi pada praktiknya, mereka dihancurkan oleh unit-unit kami. Kota ini tetap berdiri tegak dan pertahanan terus berlanjut," bunyi pernyataan resmi dari Korps Angkatan Darat ke-19 Ukraina lewat kanal Telegram mereka.
Kondisi di lapangan sendiri sudah berubah menjadi neraka akibat taktik bumi hangus yang diterapkan militer Rusia, termasuk dugaan penggunaan bom fosfor putih yang dilarang hukum humaniter internasional. Akses jalan utama yang dikenal sebagai "Jalan Kehidupan" kini dipenuhi oleh bangkai kendaraan yang hancur akibat serangan drone ofensif. Pasukan Ukraina kini harus mengandalkan taktik perang drone FPV jarak jauh untuk membendung gerak maju infanteri Rusia yang mencoba menyusup dari arah barat daya kota.
Kostyantynivka memang memegang peranan krusial karena menjadi pintu masuk bagi Rusia untuk mendekati dua pusat populasi utama di Donbas yang sangat diinginkan Putin, yaitu Kramatorsk dan Sloviansk. Kendati demikian, kehancuran total kota ini menjadi bukti rapuhnya strategi perang jangka panjang Kremlin yang terus mengorbankan ribuan nyawa demi pencapaian semu. Banyak pihak kini mempertanyakan seberapa lama masyarakat Rusia dapat mempertahankan kepercayaan mereka terhadap perang yang penuh dengan klaim palsu ini.