Krisis Kelaparan Sudan Makin Parah Imbas Perang dan Konflik Selat Hormuz
- Badan Pangan PBB (WFP) memperingatkan bahwa krisis kelaparan di Sudan semakin memburuk akibat kombinasi perang saudara dan gangguan ekonomi global di Selat Hormuz.
- Lebih dari 100 ribu orang di Sudan saat ini menghadapi kondisi kelaparan akut tingkat tertinggi (IPC 5) yang sangat mengancam jiwa mereka.
- WFP terpaksa memangkas jumlah penerima bantuan dan jatah makanan karena menghadapi defisit anggaran sebesar USD 646 juta setelah pemotongan dana dari donor utama.
Sudan kini berada dalam ancaman krisis kelaparan yang semakin dalam akibat konflik bersenjata domestik yang terus berlanjut. Kondisi ini diperparah oleh pemotongan dana bantuan internasional serta lonjakan biaya sektor pertanian yang dipicu oleh gangguan rantai pasok global akibat ketegangan perang di kawasan Iran dan penutupan Selat Hormuz. Jalur perairan strategis tersebut selama ini menjadi urat nadi perdagangan komoditas penting dunia.
"Ini adalah krisis yang sangat masif, baik dari segi jumlah masyarakat yang terdampak maupun tingkat keparahannya," ujar Pelaksana Tugas Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, kepada Reuters pada Selasa waktu setempat. Menurutnya, situasi geopolitik di Timur Tengah secara tidak langsung telah memukul ketahanan pangan negara di Afrika Timur tersebut.
Skau mengungkapkan bahwa saat ini terdapat lebih dari 100 ribu orang yang berada dalam kondisi kelaparan akut ekstrem. Angka tersebut menempatkan mereka pada level tertinggi dalam klasifikasi ketahanan pangan terpadu (IPC 5) yang didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). "Dengan jumlah orang sebanyak itu yang berada di fase kelaparan IPC 5, situasi yang terjadi di lapangan benar-benar sangat serius," tambah Skau menekankan gentingnya situasi.
Secara keseluruhan, Sudan tetap menjadi wilayah dengan krisis kemanusiaan terbesar di dunia saat ini. WFP mencatat sekitar lima juta orang di sana menghadapi tingkat kelaparan darurat hingga bencana. Meskipun sempat ada penurunan jumlah orang yang kelaparan berkat respons bantuan intensif sebelumnya, eskalasi pertempuran baru yang terjadi di Darfur selama sepekan terakhir kembali mengancam dan merusak capaian positif tersebut.
Lebih lanjut, WFP juga mengkhawatirkan dampak penutupan gerbang perbatasan Tine di Chad menuju Darfur akibat pertempuran yang kembali pecah. Di sisi lain, lembaga ini sedang mengalami defisit anggaran operasional sebesar USD 646 juta menyusul pemotongan dana dari negara donor utama seperti Amerika Serikat, Inggris, dan beberapa negara Eropa. Akibatnya, jumlah warga Sudan yang dibantu merosot dari lima juta orang pada tahun lalu menjadi hanya sekitar 3,5 juta orang saat ini.
Selain faktor operasional bantuan, Skau memperingatkan ancaman gagal tanam akibat lonjakan harga bahan bakar diesel dan kelangkaan pupuk impor dari negara-negara Teluk yang terhambat di Selat Hormuz. Sektor pertanian Sudan sangat bergantung pada mesin pompa irigasi bertenaga diesel. Jika biaya operasional ini meroket, para petani lokal dipastikan tidak akan mampu menjalankan roda produksi pangan mereka.