Perpustakaan Jakarta Perpustakaan Jakarta
  • Nasional
  • Internasional
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Entertainment
  • Bisnis
  • Budaya
  • Lingkungan
  • Teknologi
  • Amerika Serikat
  • Donald Trump
  • Kolombia
  • Bali
  • Inggris
  • Iran
  • Yogyakarta
  • Spanyol
  • Argentina
  • Surabaya
Kategori
Nasional Internasional Olahraga Ekonomi Hukum Entertainment Bisnis Budaya Lingkungan Teknologi
Tag
Amerika Serikat Donald Trump Kolombia Bali Inggris Iran Yogyakarta Spanyol Argentina Surabaya

Krisis Kelaparan Sudan Makin Parah Imbas Perang dan Konflik Selat Hormuz

Tim Redaksi • 15 Juli 2026, 05:37 • Internasional
  • Badan Pangan PBB (WFP) memperingatkan bahwa krisis kelaparan di Sudan semakin memburuk akibat kombinasi perang saudara dan gangguan ekonomi global di Selat Hormuz.
  • Lebih dari 100 ribu orang di Sudan saat ini menghadapi kondisi kelaparan akut tingkat tertinggi (IPC 5) yang sangat mengancam jiwa mereka.
  • WFP terpaksa memangkas jumlah penerima bantuan dan jatah makanan karena menghadapi defisit anggaran sebesar USD 646 juta setelah pemotongan dana dari donor utama.

Sudan kini berada dalam ancaman krisis kelaparan yang semakin dalam akibat konflik bersenjata domestik yang terus berlanjut. Kondisi ini diperparah oleh pemotongan dana bantuan internasional serta lonjakan biaya sektor pertanian yang dipicu oleh gangguan rantai pasok global akibat ketegangan perang di kawasan Iran dan penutupan Selat Hormuz. Jalur perairan strategis tersebut selama ini menjadi urat nadi perdagangan komoditas penting dunia.

"Ini adalah krisis yang sangat masif, baik dari segi jumlah masyarakat yang terdampak maupun tingkat keparahannya," ujar Pelaksana Tugas Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, kepada Reuters pada Selasa waktu setempat. Menurutnya, situasi geopolitik di Timur Tengah secara tidak langsung telah memukul ketahanan pangan negara di Afrika Timur tersebut.

Skau mengungkapkan bahwa saat ini terdapat lebih dari 100 ribu orang yang berada dalam kondisi kelaparan akut ekstrem. Angka tersebut menempatkan mereka pada level tertinggi dalam klasifikasi ketahanan pangan terpadu (IPC 5) yang didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). "Dengan jumlah orang sebanyak itu yang berada di fase kelaparan IPC 5, situasi yang terjadi di lapangan benar-benar sangat serius," tambah Skau menekankan gentingnya situasi.

Secara keseluruhan, Sudan tetap menjadi wilayah dengan krisis kemanusiaan terbesar di dunia saat ini. WFP mencatat sekitar lima juta orang di sana menghadapi tingkat kelaparan darurat hingga bencana. Meskipun sempat ada penurunan jumlah orang yang kelaparan berkat respons bantuan intensif sebelumnya, eskalasi pertempuran baru yang terjadi di Darfur selama sepekan terakhir kembali mengancam dan merusak capaian positif tersebut.

Lebih lanjut, WFP juga mengkhawatirkan dampak penutupan gerbang perbatasan Tine di Chad menuju Darfur akibat pertempuran yang kembali pecah. Di sisi lain, lembaga ini sedang mengalami defisit anggaran operasional sebesar USD 646 juta menyusul pemotongan dana dari negara donor utama seperti Amerika Serikat, Inggris, dan beberapa negara Eropa. Akibatnya, jumlah warga Sudan yang dibantu merosot dari lima juta orang pada tahun lalu menjadi hanya sekitar 3,5 juta orang saat ini.

Selain faktor operasional bantuan, Skau memperingatkan ancaman gagal tanam akibat lonjakan harga bahan bakar diesel dan kelangkaan pupuk impor dari negara-negara Teluk yang terhambat di Selat Hormuz. Sektor pertanian Sudan sangat bergantung pada mesin pompa irigasi bertenaga diesel. Jika biaya operasional ini meroket, para petani lokal dipastikan tidak akan mampu menjalankan roda produksi pangan mereka.

Tags: Sudan Selat Hormuz Wfp Afrika Chad
Sumber: Al Jazeera

Artikel Lainnya

Donald Trump Batalkan Tarif 20 Persen di Selat Hormuz, Alihkan ke Kerja Sama Dagang 15 Jul 2026, 03:28
AS Lancarkan Serangan Gelombang Kedua ke Iran, Blokade Selat Hormuz Kian Memanas 16 Jul 2026, 14:42
Timur Tengah Membara, Jet Tempur AS Bom Iran 6 Malam Beruntun dan Lumpuhkan Selat Hormuz 17 Jul 2026, 07:45
Perang Eksistensial Pecah, AS Hujani Iran dengan Rudal Usai Blokade Selat Hormuz 17 Jul 2026, 04:39

Terbaru

Bikin Terharu, Pastor Johanis Mangkey Luncurkan Buku Refleksi dan Ziarah Makam Rayakan 45 Tahun Imamat 20 Jul 2026, 16:12
Dorong Perlindungan Karya Kampus, Universitas Bima Internasional MFH Resmi Luncurkan Sentra KI 20 Jul 2026, 16:11
Heboh Sekolah Sepi Peminat di Bantul, Efek Tren Anak Muda Tunda Nikah dan Punya Anak? 20 Jul 2026, 16:11
Terobosan Inklusif, RRI Padang Gelar Nobar Final Piala Dunia 2026 Ramah Tunanetra 20 Jul 2026, 16:10
Dua Daerah Mundur Efek Anggaran, Cabor Cricket Porprov XII NTB Resmi Dimulai Pertandingkan 4 Emas 20 Jul 2026, 16:10
Heboh Rencana SPP SMA-SMK Ditolak Dedi Mulyadi, DPRD Jabar Tetap Lanjut Bahas! 20 Jul 2026, 16:09
Heboh Program 3 Juta Rumah Subsidi, REI Sidoarjo Bongkar Tantangan Besar Pengembang! 20 Jul 2026, 16:09

Kategori

Nasional 162 artikel
Internasional 138 artikel
Olahraga 133 artikel
Ekonomi 128 artikel
Hukum 65 artikel
Entertainment 59 artikel
Bisnis 41 artikel
Budaya 38 artikel
Lingkungan 35 artikel
Teknologi 21 artikel

Tag Populer

Amerika Serikat Donald Trump Kolombia Bali Inggris Iran Yogyakarta Spanyol Argentina Surabaya
Perpustakaan Jakarta • Pusat Literasi dan Informasi Terpercaya
Privacy Policy • Cookie Policy • Legal Notice • Subscription Terms • Privacy Settings
2018 Perpustakaan Jakarta. All rights reserved.