AS Lancarkan Serangan Gelombang Kedua ke Iran, Blokade Selat Hormuz Kian Memanas
- Militer Amerika Serikat merampungkan serangan udara gelombang kedua ke sejumlah wilayah Iran guna melumpuhkan kemampuan Teheran menyerang kapal di Selat Hormuz.
- Presiden Donald Trump mengumumkan pembebasan seorang warga negara Amerika Serikat, Dena Karari, yang telah ditahan di Iran sejak Desember 2024.
- Blokade laut resmi diberlakukan kembali oleh AS dengan melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak kosong yang mengarah ke Pulau Kharg.
Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah merampungkan gelombang kedua serangan udara ke wilayah Iran untuk melumpuhkan kemampuan negara tersebut dalam menargetkan kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Ketegangan di kawasan Timur Tengah ini semakin membara setelah komando pusat AS mengerahkan jet tempur untuk menggempur pusat komando dan pertahanan udara Iran. Langkah agresif ini diambil di bawah instruksi langsung Presiden AS Donald Trump yang kini tengah mempertimbangkan opsi untuk memperluas operasi militer globalnya.
Serangan udara tersebut dilaporkan telah memicu aktivasi sistem pertahanan udara di ibu kota Teheran pada Kamis dini hari waktu setempat setelah suara ledakan keras mengejutkan warga. Wilayah yang menjadi target tidak hanya terbatas di pesisir selatan, melainkan telah meluas hingga ke area tengah dan utara Iran, termasuk fasilitas udara di Semnan dan kawasan Khondab. Pemerintah Iran melalui juru bicara kementerian luar negeri menegaskan tidak memiliki rencana untuk melakukan negosiasi apa pun dengan pihak Washington dalam situasi genting ini.
Di tengah kecamuk pertempuran, Presiden Donald Trump mengumumkan kabar mengejutkan lewat media sosial mengenai pembebasan seorang warga negara AS bernama Dena Karari yang ditahan sejak akhir tahun lalu. "Iran telah mengizinkan seorang warga negara Amerika Serikat, yang ditahan secara tidak sah pada Desember 2024 di bawah pemerintahan si mengantuk Joe Biden, untuk meninggalkan negara tersebut," ujar Trump melalui akun Truth Social miliknya. Pihak Gedung Putih mengapresiasi langkah pembebasan tersebut sebagai bentuk iktikad baik di tengah ketegangan bersenjata.
Dampak dari serangan ini juga dilaporkan menyasar area dekat fasilitas publik, termasuk Rumah Sakit Shahid Baghaei di kota Ahvaz yang menampung ratusan pasien anak penderita kanker. Sebanyak 211 pasien terpaksa dievakuasi secara darurat oleh petugas medis dan keluarga akibat guncangan hebat dari ledakan rudal AS yang jatuh di dekat kompleks rumah sakit. Otoritas kesehatan Iran menyatakan lebih dari 260 orang mengalami luka-luka dan puluhan warga sipil tewas akibat rangkaian serangan udara yang terjadi berturut-turut dalam beberapa hari terakhir.
Sementara itu di sektor maritim, Angkatan Laut AS secara resmi telah memberlakukan kembali blokade penuh terhadap pelabuhan-pelabuhan utama milik Iran. Pasukan Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi telah melumpuhkan kapal tanker M/T Belma berbendera Curacao menggunakan rudal Hellfire setelah kapal tersebut mengabaikan peringatan untuk menjauh dari Pulau Kharg. Situasi ini membuat arus lalu lintas komersial di Selat Hormuz menurun drastis dari rata-rata 110 kapal per hari menjadi hanya belasan kapal yang berani melintas.