Timur Tengah Membara, Jet Tempur AS Bom Iran 6 Malam Beruntun dan Lumpuhkan Selat Hormuz
- Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan udara ke wilayah Iran selama enam malam berturut-turut hingga merusak infrastruktur listrik di kota pelabuhan Bandar Abbas.
- Jalur pelayaran strategis Selat Hormuz lumpuh total dengan volume lalu lintas kapal merosot drastis hingga tersisa hanya sekitar sepuluh persen dari kapasitas normal harian.
- Kuwait dan Bahrain berada dalam kondisi siaga setelah dihujani puluhan pesawat nirawak (drone) dan rudal balasan yang diluncurkan oleh militer Iran sebelum fajar.
Konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah semakin mendekati titik nadir setelah militer Amerika Serikat (AS) melancarkan gelombang serangan udara ke wilayah Iran untuk malam keenam berturut-turut. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa operasi udara yang dimulai sejak Kamis pukul 21.30 waktu setempat ini bertujuan untuk melumpuhkan kapasitas militer Teheran secara masif. Serangan brutal tersebut dilaporkan tidak lagi hanya menyasar wilayah pesisir selatan, melainkan telah menembus jauh ke zona pedalaman Iran.
Ledakan dahsyat dilaporkan mengguncang bagian barat Bandar Abbas, sebuah kota pelabuhan krusial yang terletak tepat di bibir Selat Hormuz. Kementerian Energi Iran mengabarkan bahwa serangan udara AS merusak jaringan transmisi listrik utama, yang berakibat pada pemadaman listrik total di tengah suhu ekstrem yang mencapai lebih dari 50 derajat Celsius. Pemerintah Iran menuding AS telah melakukan kejahatan perang secara nyata karena dengan sengaja menargetkan fasilitas sipil dan pasokan energi bagi masyarakat lokal.
Sebagai balasan atas bombardir tersebut, Iran meluncurkan puluhan drone dan rudal ke negara-negara tetangga yang menjadi sekutu AS di kawasan Teluk Arab. Kuwait melaporkan pertahanan udaranya berhasil mencegat sedikitnya 32 drone agresor sejak Kamis fajar, meski puing-puing intersepsi dilaporkan merusak sejumlah kawasan pemukiman warga. Sementara itu, sirene bahaya terus meraung-raung di Bahrain, memaksa otoritas keamanan setempat menginstruksikan seluruh warga untuk segera mencari perlindungan di dalam bunker.
Ketegangan ini juga membuat jalur pelayaran global di Selat Hormuz lumpuh total setelah AS kembali menerapkan blokade maritim ketat dan sempat menembak kapal tanker kosong tujuan Pulau Kharg. Berdasarkan data MarineTraffic, hanya ada tiga kapal yang berani melintasi selat tersebut dalam 24 jam terakhir, berbanding terbalik dari rata-rata normal sebelum perang yang mencapai 110 kapal per hari. Iran pun menegaskan kembali sikapnya bahwa pengelolaan Selat Hormuz adalah harga mati yang tidak bisa diganggu gugat oleh pihak asing.
"Jika tindakan permusuhan Amerika terhadap Iran terus berlanjut, respons Republik Islam akan berada di luar perhitungan musuh, dan arena konfrontasi baru akan segera terbentuk," ancam juru bicara angkatan darat Iran, Mohammad Akraminia. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi militer yang lebih ekstrem, termasuk rencana untuk menduduki Pulau Kharg yang menjadi pusat ekonomi vital bagi ekspor minyak Iran. Krisis yang terus memanas ini diperkirakan akan memicu guncangan hebat pada pasar minyak dunia seiring menipisnya cadangan minyak mentah global.