Kiamat Perang AS-Iran Pecah, Donald Trump Siapkan Invasi Darat Skala Penuh?
- Konflik antara Amerika Serikat dan Iran semakin memanas dan mendekati perang total setelah gugurnya tiga prajurit AS di Yordania dan Irak.
- Iran membalas blokade laut AS dengan memperluas target serangan rudal ke tujuh negara serta mengancam fasilitas pelabuhan strategis di negara-negara Teluk.
- Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kesiapan untuk mengambil opsi kampanye militer darat meskipun menghadapi risiko bencana historis akibat cuaca ekstrem.
Ketegangan membara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kini telah bergeser dari sekadar aksi saling balas menjadi situasi yang menyerupai perang total. Konflik ini berada di titik kritis setelah Washington dan Tehran sama-sama menyatakan bahwa nota kesepahaman (MoU) yang disepakati pada Juni lalu sudah tidak berlaku lagi. Kedua belah pihak tampaknya enggan kembali ke meja perundingan dan memilih untuk unjuk kekuatan militer di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi konflik melonjak drastis pasca-gugurnya dua anggota militer AS di Yordania akibat rentetan serangan rudal Iran, yang kemudian disusul oleh kematian satu prajurit lagi di Irak utara. Menanggapi insiden berdarah tersebut, pemerintahan Presiden Donald Trump menegaskan akan segera menghukum Tehran dengan tindakan yang sangat keras. "Hari-hari mendatang akan menjadi fase paling berbahaya dalam perang ini," ujar Ian Bremmer, pendiri firma analisis risiko geopolitik Eurasia Group.
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa perlawanan adalah satu-satunya pilihan dan tetap menggunakan penutupan Selat Hormuz sebagai tuas strategis. Iran juga dilaporkan mulai mengadaptasi sistem pertahanan mereka dengan menembakkan rudal berpemandu berkecepatan tinggi serta amunisi tandan untuk memaksimalkan kerusakan di basis militer AS. Tidak hanya itu, kantor berita Fars melaporkan ancaman Iran yang akan menargetkan jaringan pelabuhan utama di negara-negara Arab Teluk jika AS nekat menyerang Pelabuhan Chabahar.
Menghadapi ketegaran Iran, Donald Trump mengisyaratkan bahwa opsi serangan darat kini mulai dipertimbangkan, meskipun ia mengaku enggan melakukannya secara langsung. "Terkadang Anda membutuhkan kampanye darat, tetapi kita memiliki pihak lain yang akan melakukan kampanye darat tersebut untuk kita," kata Trump dalam wawancaranya dengan Fox News. Saluran berita CNN juga melaporkan bahwa pihak Gedung Putih tengah mengkaji opsi serangan baru, termasuk rencana menggempur Pulau Kharg yang menjadi obyek vital energi Iran.
Kendati demikian, rencana invasi darat ke wilayah selatan Iran dinilai oleh banyak analis sebagai sebuah perjudian yang luar biasa berbahaya bagi militer AS. Menyerang wilayah Iran di tengah cuaca musim panas yang ekstrem melawan populasi yang sangat termobilisasi bisa menjadi bencana sejarah yang nyata bagi Washington. Terlebih lagi, sekutu utama AS seperti Arab Saudi telah menegaskan kepada Iran bahwa mereka tidak akan mengizinkan wilayah udara atau daratan mereka digunakan untuk meluncurkan serangan.