Militer AS Gempur Iran di Tengah Serangan Kapal Tanker di Selat Hormuz
- Militer Amerika Serikat meluncurkan serangan udara malam ketiga berturut-turut ke wilayah Iran di bawah instruksi langsung Presiden Donald Trump.
- Dua kapal tanker milik Uni Emirat Arab dihantam rudal jelajah di Selat Hormuz, sementara militer Iran mengeklaim telah melumpuhkan kapal yang melanggar aturan navigasi.
- Konflik bersenjata ini memicu lonjakan harga minyak dunia hingga sembilan persen serta penutupan sementara layanan konsuler AS di Uni Emirat Arab.
Militer Amerika Serikat kembali meluncurkan serangan udara malam ketiga berturut-turut ke wilayah Iran guna melumpuhkan kekuatan militer negara tersebut. Ketegangan bersenjata ini kian memuncak setelah dua kapal tanker minyak milik Uni Emirat Arab dilaporkan terkena serangan rudal di Selat Hormuz. Langkah ofensif ini diambil menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump yang kembali memberlakukan blokade pelayaran serta mengusulkan biaya pengamanan jalur laut strategis tersebut.
Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa operasi militer tersebut dilakukan atas perintah langsung dari Presiden Donald Trump untuk menargetkan basis pertahanan Iran. Sebelum serangan dilancarkan, Trump menegaskan bahwa militer AS akan menghantam kekuatan militer Iran dengan sangat keras demi mengamankan jalur pelayaran dunia. 'AS akan dikenal sebagai Penjaga Selat Hormuz, dan sebagai bentuk keadilan, kami akan meminta penggantian biaya sebesar 20 persen dari semua kargo yang dikirimkan,' tulis Trump melalui media sosial Truth Social.
Sementara itu, pihak Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab menyatakan rudal jelajah Iran menghantam kapal tanker Mombasa dan Al Bahiyah saat melintasi perairan Oman. Korps Garda Revolusi Islam Iran mengonfirmasi bahwa mereka telah melumpuhkan dua kapal supertanker yang dituding mengabaikan peringatan navigasi internasional. Mereka juga menuduh pemerintah AS sengaja menghasut kapal-kapal asing untuk menggunakan rute ilegal guna memicu ketidakstabilan di kawasan tersebut.
Esalasi konflik bersenjata ini segera meluas ke beberapa negara tetangga termasuk Bahrain yang mengklaim berhasil menembak jatuh serangan udara dari militer Iran. Pihak militer Iran juga mengeklaim telah menargetkan kapal musuh milik militer AS serta menyerang fasilitas pertahanan sekutu di Kuwait menggunakan drone tempur. Sejumlah ledakan besar dilaporkan terdengar di kota-kota pelabuhan penting Iran, mulai dari Bandar Abbas hingga Bushehr akibat serangan udara balasan dari pasukan AS.
Dampak dari perang di jalur transit energi terpenting dunia ini langsung memicu kepanikan pasar global dengan lonjakan harga minyak mentah dunia yang melesat hingga sembilan persen. Namun, badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa menolak usulan tarif keamanan dari Trump karena dinilai tidak memiliki dasar hukum internasional yang sah. Untuk mengantisipasi eskalasi yang lebih buruk, Kedutaan Besar AS di Uni Emirat Arab memutuskan untuk menutup sementara seluruh layanan konsuler mereka.