Kebijakan Bensin E20 India Picu Kemarahan Pemilik Kendaraan, Dituding Merusak Mesin
- Jutaan pemilik kendaraan di India mengeluhkan penurunan efisiensi bahan bakar dan performa mesin setelah wajib menggunakan bensin E20.
- Pemerintah Narendra Modi memajukan target implementasi campuran etanol 20 persen dari tahun 2030 menjadi tahun 2025.
- Kebijakan ini memicu polemik politik akibat dugaan konflik kepentingan serta dampak jangka panjang terhadap komponen mesin mobil tua.
Kebijakan Pemerintah India yang mempercepat transisi penggunaan bahan bakar ramah lingkungan kini menuai gelombang protes dari jutaan pemilik kendaraan di negara tersebut. Banyak pengendara di New Delhi terkejut saat mendapati bensin E20, yang mengandung campuran 20 persen etanol, menjadi satu-satunya pilihan di stasiun pengisian bahan bakar umum. Langkah agresif di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi ini memicu keluhan massal terkait penurunan performa mobil secara drastis.
Para pemilik sedan bensin mengeluhkan penurunan efisiensi bahan bakar yang mencapai lebih dari 10 persen setelah beberapa minggu menggunakan bensin E20. Kendaraan dinilai menjadi kurang responsif, akselerasi melambat saat menyalip, dan tenaga mesin melemah secara signifikan ketika menanjak atau saat pendingin udara dinyalakan. Masalah ini memicu kemarahan publik setelah Jaksa Agung India sempat menyebut bahwa implementasi bensin dengan kadar etanol tinggi ini masih bersifat eksperimen.
Menteri Transportasi Jalan dan Komando Federal India, Nitin Gadkari, mengakui adanya penurunan jarak tempuh kendaraan akibat karakteristik energi etanol yang lebih rendah dibandingkan bensin konvensional. Meski demikian, Gadkari membela kebijakan tersebut dengan menyatakan bahwa program pencampuran etanol aman dan mampu mendongkrak pendapatan petani tebu serta jagung lokal. Langkah ini juga diklaim berhasil menekan ketergantungan India terhadap impor minyak mentah global yang sangat tinggi.
Di sisi lain, oposisi politik dan pakar otomotif independen seperti Sajad Ahmad Wani memperingatkan dampak jangka panjang korosi etanol terhadap komponen mobil tua. Sifat anhydrous etanol yang korosif dapat mempercepat keausan pada selang karet, segel, gasket, dan sistem bahan bakar jika kendaraan belum tersertifikasi E20. Kritik tajam juga mengarah pada dugaan konflik kepentingan karena keluarga Menteri Gadkari diketahui memiliki saham di perusahaan produsen etanol.
Kelompok pemantau lingkungan hidup turut menyoroti bahwa ekspansi lahan pertanian untuk mendukung industri biofuel berpotensi menguras pasokan air di wilayah rawan kekeringan. Berbeda dengan Brasil yang sukses menerapkan kebijakan serupa karena didukung adaptasi kendaraan bermesin fleksibel, India dinilai terlalu terburu-buru melakukan transisi massal. Konsumen kini mendesak transparansi informasi yang lebih jelas di setiap SPBU agar pemilik mobil dapat mengantisipasi risiko kerusakan mesin.