Jaringan Listrik Kuba Lumpuh Total Lagi, Pemadaman Ketiga dalam 10 Hari
- Jaringan listrik nasional Kuba mengalami kelumpuhan total untuk ketiga kalinya dalam kurun waktu sepuluh hari terakhir.
- Krisis energi ini diperparah oleh blokade minyak yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
- Pemadaman listrik massal ini memicu kemarahan publik hingga melahirkan aksi protes warga di sejumlah wilayah di Havana.
Jaringan listrik nasional Kuba kembali mengalami kelumpuhan total pada Selasa siang waktu setempat. Insiden ini menandai bencana pemadaman listrik massal ketiga yang melanda negara kepulauan tersebut dalam kurun waktu sepuluh hari terakhir. Matinya aliran listrik secara menyeluruh ini langsung melumpuhkan aktivitas harian jutaan warga Kuba yang tengah berjuang menghadapi musim panas.
Perusahaan listrik negara Kuba, UNE, mengonfirmasi bahwa gangguan sistemik mulai terjadi sekitar pukul 11.00 waktu setempat atau pukul 15.00 GMT. Kementerian Energi dan Tambang Kuba juga langsung merilis pernyataan resmi melalui media sosial terkait situasi darurat tersebut. 'Telah terjadi pemutusan hubungan total pada sistem kelistrikan nasional,' tulis perwakilan kementerian dalam pengumuman resminya.
Krisis listrik parah ini terjadi di tengah keterpurukan ekonomi Kuba yang disebut sebagai yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Kondisi ini diperparah oleh blokade pengiriman minyak yang diterapkan oleh Amerika Serikat (AS) sejak Januari lalu di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Kebijakan Washington tersebut memutus pasokan bahan bakar utama untuk pembangkit listrik Kuba setelah runtuhnya pemerintahan sekutu mereka, Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Selain hilangnya pasokan dari Venezuela, Kuba kini kian terisolasi setelah Meksiko juga menghentikan pengiriman bahan bakunya akibat tekanan diplomatik dari Gedung Putih. Berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA) tahun 2023, Kuba hanya mampu memproduksi sekitar 40 persen dari total kebutuhan minyak domestiknya. Sisanya sangat bergantung pada impor luar negeri yang kini hampir sepenuhnya tersumbat oleh sanksi internasional.
Sanksi sepihak ini sengaja dirancang oleh pemerintahan Donald Trump untuk menekan pemerintahan komunis Kuba agar segera menggelar pemilu demokratis dan membebaskan tahanan politik. Kendati demikian, Havana bersikeras menuding bahwa blokade kejam AS merupakan dalang utama di balik runtuhnya infrastruktur energi mereka yang mayoritas masih menggunakan teknologi usang era 1960-an dan 1980-an.
Di sisi lain, Washington menolak disalahkan atas penderitaan rakyat Kuba dan menyebut kegagalan pengelolaan internal sebagai pemicu utama. Duta Besar AS untuk PBB, Michael Waltz, menegaskan posisi negaranya dalam debat Majelis Umum PBB pekan lalu yang menyudutkan para pemimpin Kuba. 'Ubah cara Anda memimpin dan nyalakan kembali lampu untuk rakyat Anda,' sindir Waltz dengan tegas dalam forum tersebut.
Rentetan pemadaman berkepanjangan ini pun akhirnya memicu gelombang frustrasi dan kemarahan publik yang tak terbendung di berbagai sudut kota. Pekan lalu saja, aksi protes sporadis pecah di Havana di mana warga turun ke jalan sembari memukul-mukul panci dan menuntut pasokan listrik segera dipulihkan. Publik khawatir proses pemulihan daya kali ini akan memakan waktu lebih dari 24 jam seperti insiden pemadaman sebelumnya.