Ketegangan AS-Meksiko Memuncak, 17 Imigran Meksiko Tewas dalam Operasi ICE
- Ketegangan diplomatik antara Meksiko dan Amerika Serikat memuncak setelah 17 imigran asal Meksiko tewas dalam operasi serta tahanan imigrasi AS.
- Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengecam keras kejadian ini dan mengajukan tuntutan hukum serta penyelidikan kriminal terhadap pihak berwenang AS.
- Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS membantah adanya pelanggaran sistemik atau peningkatan angka kematian di fasilitas penahanan mereka.
Hubungan diplomatik antara Meksiko dan Amerika Serikat (AS) kini berada di titik didih menyusul laporan tewasnya 17 warga negara Meksiko di bawah pengawasan ketat otoritas imigrasi AS. Kematian belasan imigran ini terjadi di tengah operasi penindakan imigrasi besar-besaran yang diluncurkan pada masa jabatan kedua Presiden AS Donald Trump. Menanggapi situasi yang kian memanas, Pemerintah Meksiko secara resmi menuntut pertanggungjawaban penuh dari Washington atas hilangnya nyawa para warga negaranya tersebut.
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengecam keras tragedi ini dan menegaskan bahwa seluruh rakyat Meksiko merasakan kepedihan yang mendalam bersama keluarga korban. Sebagai langkah konkret, Pemerintah Meksiko mulai mengajukan tuntutan resmi kepada jaksa penuntut negara bagian serta federal di AS guna mendesak dilakukannya penyelidikan kriminal menyeluruh. Selain itu, surat perintah penghentian (cease-and-desist) juga telah dikirimkan ke berbagai perusahaan swasta yang mengelola pusat penahanan imigrasi di AS.
Berdasarkan data yang dirilis otoritas kedua negara, 14 dari korban tewas saat berada dalam tahanan Immigration and Customs Enforcement (ICE) atau fasilitas medis rujukan. Sementara itu, tiga korban lainnya mengembuskan napas terakhir di tengah berlangsungnya operasi penegakan hukum imigrasi di lapangan. Kasus paling mutakhir yang memicu kemarahan publik Meksiko adalah kematian Lorenzo Salgado Araujo (52), seorang pekerja konstruksi yang tewas ditembak oleh agen ICE dalam sebuah operasi di Houston pekan lalu.
Di sisi lain, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) membantah keras tudingan adanya peningkatan angka kematian maupun tindak kekerasan sistemik di fasilitas mereka. Melalui pernyataan resminya, DHS menegaskan bahwa seluruh individu yang ditahan telah menerima hak-hak hukum yang sesuai dan mendapatkan fasilitas hidup yang layak. 'Para tahanan menerima proses hukum yang adil secara penuh, diberikan makanan, air, serta perawatan medis yang memadai, serta memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dengan keluarga dan pengacara mereka,' tulis perwakilan DHS dalam pernyataan resminya.
Kasus-kasus kematian ini mencakup berbagai kondisi tragis, mulai dari dugaan bunuh diri di dalam sel, komplikasi medis akut akibat penyakit bawaan, hingga insiden penembakan fatal saat penangkapan. Beberapa korban diketahui telah menetap puluhan tahun di AS dan memiliki keluarga yang merupakan warga negara AS. Langkah hukum agresif yang diambil oleh Presiden Sheinbaum ini menandai babak baru dari ketegangan geopolitik kedua negara bertetangga tersebut dalam isu krusial mengenai migrasi lintas batas.