Hujan Rudal Balistik Terbesar Rusia Hantam Ukraina, Ibu Kota Kyiv Hancur Lebang
- Rusia meluncurkan serangan kombinasi masif menggunakan lebih dari 40 rudal balistik dan 120 drone dengan target utama ibu kota Kyiv.
- Otoritas Ukraina melaporkan sedikitnya 16 warga sipil tewas dan 77 lainnya luka-luka akibat rentetan serangan udara Rusia dalam 24 jam terakhir.
- Presiden Volodymyr Zelensky mendesak sekutu Barat untuk segera mengirim pasokan rudal pencegat karena stok Patriot kian menipis.
Militer Rusia kembali mengamuk dengan meluncurkan salah satu serangan rudal balistik terbesar sejak invasi skala penuh dimulai empat tahun lalu. Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa Moskow menghujani wilayahnya dengan serangan kombinasi masif yang melibatkan pesawat tanpa awak (UAV) serta berbagai jenis rudal yang diluncurkan dari udara dan darat pada Minggu dini hari. Ibu kota Kyiv menjadi target utama dalam gempuran brutal yang berlangsung sangat intens tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengonfirmasi bahwa pasukan Rusia melepaskan lebih dari 40 rudal dari berbagai jenis dan 120 drone penyerang, di mana sebagian besar diarahkan langsung ke Kyiv. Dampak ledakan menyisakan pemandangan mengerikan dengan kawah raksasa yang menganga di tengah kota, fasad bangunan yang hangus terbakar, serta sebuah gudang logistik besar yang rusak parah. Otoritas setempat melaporkan sedikitnya 16 warga sipil tewas dan 77 lainnya luka-luka di seluruh wilayah Ukraina dalam 24 jam terakhir.
Kementerian Pertahanan Rusia sendiri telah mengakui serangan besar-besaran tersebut dan mengeklaim target mereka adalah fasilitas industri pertahanan serta pusat logistik di Kyiv. Melalui saluran Telegram resminya, pihak Moskow bahkan menuliskan pesan provokatif yang menegaskan bahwa amunisi mereka telah diisi ulang dan serangan akan terus berlanjut. Aksi saling balas pun tak terhindarkan setelah Ukraina sebelumnya meluncurkan drone laut yang menghantam tanker minyak Rusia di Laut Hitam.
Menanggapi situasi kritis ini, Zelensky langsung mengeluarkan seruan darurat kepada negara-negara Barat untuk segera mengirimkan bantuan militer tambahan. "Perlindungan terhadap rudal balistik adalah prioritas utama dan konstan kami saat ini. Rudal pencegat dibutuhkan setiap hari, dan saya berterima kasih kepada semua pihak yang menanggapi perjanjian kami dengan serius," ujar Zelensky. Kecepatan rudal balistik Rusia yang mampu menembus atmosfer dengan kecepatan berkali-kali lipat dari kecepatan suara membuat sistem pertahanan udara Ukraina kewalahan.
Kondisi ini diperparah dengan menipisnya stok rudal Patriot buatan Amerika Serikat milik Ukraina, sementara permintaan global di tengah konflik Teluk juga sedang melonjak tinggi. Meskipun Presiden AS Donald Trump sempat mengusulkan agar Ukraina memproduksi sistem Patriot sendiri di bawah lisensi, para analis menilai proyek tersebut membutuhkan waktu bulanan bahkan tahunan untuk bisa terwujud. Profesor studi strategis dari Universitas St Andrews, Phillips O'Brien, menilai strategi pemboman kota dengan rudal balistik ini akan menjadi pola serangan yang lebih sering digunakan Rusia ke depannya.