Horor Jatuh dari Langit, Drone Asing Gempur Sudan hingga 880 Warga Sipil Tewas!
- Perang saudara di Sudan kini bertransformasi menjadi pertempuran udara mematikan dengan maraknya penggunaan drone canggih pasokan asing.
- PBB melaporkan setidaknya 880 warga sipil tewas akibat serangan drone dalam empat bulan pertama tahun 2026, mencakup 80 persen dari total kematian sipil.
- Kota strategis El-Obeid menjadi salah satu wilayah paling menderita dengan infrastruktur air, pasar, hingga truk bantuan kemanusiaan yang hancur dibombardir.
Perang saudara di Sudan yang telah berkecamuk selama lebih dari tiga tahun kini memasuki babak baru yang jauh lebih mengerikan dan mematikan bagi warga sipil. Wilayah strategis seperti Kota El-Obeid kini dicekam teror konstan yang datang dari langit akibat masifnya penggunaan pesawat nirawak atau drone tempur oleh kedua pihak yang bertikai. "Anda tidak bisa bersembunyi dari serangan drone," ungkap Elsadig, seorang pemuda setempat berusia 27 tahun yang harus kehilangan kaki kirinya akibat hantaman bom udara tersebut.
Transformasi taktik perang ini memicu lonjakan korban jiwa yang sangat drastis di kalangan masyarakat yang tidak berdosa. Berdasarkan data terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serangan drone telah menewaskan sedikitnya 880 warga sipil hanya dalam empat bulan pertama tahun 2026 saja. Angka mengerikan ini menyumbang lebih dari 80 persen dari keseluruhan total kematian warga sipil yang tercatat oleh PBB di negara terpukul tersebut.
Persaingan senjata udara ini didorong oleh pasokan teknologi militer dari luar negeri yang terus mengalir kepada Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) pimpinan Abdel Fattah al-Burhan maupun pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) di bawah kendali Hemedti. SAF dilaporkan mendapat sokongan drone jenis Bayraktar TB2 dari Turki yang berhasil memukul mundur lawan dari ibu kota Khartoum. Di sisi lain, militer RSF juga memperkuat armadanya dengan drone jarak jauh FH-95 buatan China yang diduga kuat disalurkan melalui jaringan pemasok di Uni Emirat Arab.
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Türk, menyatakan kekhawatiran mendalam atas taktik perang yang sengaja menyasar fasilitas publik dan memutus urat nadi kehidupan kota. Sepanjang bulan Juni saja, terdapat 15 serangan drone yang terverifikasi menghantam pasar, sekolah, stasiun pengisian bahan bakar, hingga infrastruktur air bersih di sekitar El-Obeid. Pihak PBB menegaskan bahwa serangan-serangan ini bukan lagi sekadar dampak tidak langsung dari pertempuran, melainkan sudah menjadi strategi militer utama untuk melumpuhkan fungsi kota.
Akibat eskalasi serangan udara yang membabi buta ini, penyaluran bantuan kemurnian internasional menjadi sangat terhambat dan berbahaya untuk dilakukan. Baru-baru ini, sebuah truk milik Badan Pengungsi PBB (UNHCR) yang mengangkut puluhan ton logistik darurat hancur total setelah dihantam rudal drone di tengah jalan. Blokade udara dan kehancuran masif ini diprediksi akan mempercepat bencana kelaparan terburuk di dunia yang kini mengancam nasib belasan juta rakyat Sudan.