Gaza Masuk Siklus Kekacauan, Israel Sengaja Targetkan Pejabat Sipil dan Polisi
- Serangan udara Israel di kamp Jabalia menewaskan seorang direktur kantor polisi beserta beberapa anggotanya di tengah situasi gencatan senjata.
- Data Kantor Media Pemerintah di Gaza mencatat terjadi 3.689 pelanggaran oleh militer Israel selama 275 hari masa gencatan senjata berjalan.
- Analis menilai Israel sengaja menyasar fondasi birokrasi, akademisi, dan kepolisian untuk mendorong Gaza ke dalam siklus kekacauan tanpa akhir.
Serangan militer Israel di kamp pengungsi Jabalia, Gaza bagian utara, menewaskan seorang direktur kantor polisi setempat beserta beberapa anggotanya. Meski kesepakatan gencatan senjata telah berjalan selama berbulan-bulan, Israel terus meluncurkan operasi mematikan di wilayah Palestina tersebut. Pihak Tel Aviv berdalih bahwa serangan berkala itu menyasar para pejuang Hamas dan mengeliminasi ancaman yang dinilai dapat segera terjadi.
Sejak perjanjian gencatan senjata diberlakukan, para analis menilai Israel sedang mengondisikan masyarakat internasional untuk menerima pelanggaran harian sebagai sebuah kenormalan baru. Berdasarkan data dari Kantor Media Pemerintah di Gaza, terdapat 3.689 pelanggaran terukur yang dilakukan Israel selama 275 hari masa gencatan senjata. Rentetan serangan sepihak tersebut telah menewaskan sedikitnya 1.122 warga Palestina dan melukai 3.599 orang lainnya di dalam periode damai yang semu ini.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) melaporkan bahwa serangan Israel kini secara sistematis menargetkan petugas kepolisian yang bertugas menjaga ketertiban umum. Sejak Januari 2026, sedikitnya ada 12 serangan terarah yang menewaskan 35 personel polisi termasuk saat mereka sedang mengatur lalu lintas atau mengawasi pasar rakyat. Langkah ini dinilai melampaui tujuan militer dan secara langsung melumpuhkan kemampuan administratif serta proses pemulihan sosial kemasyarakatan di Gaza.
Analis politik asal Gaza, Ahmed al-Tanani, mengungkapkan bahwa dalih serangan Israel kini telah bergeser dari urusan keamanan menjadi pembunuhan yang disengaja atas dasar kecurigaan tanpa bukti dasar. 'Israel mengatakan dengan jelas bahwa masalah mereka di Jalur Gaza bukan hanya dengan Hamas, melainkan dengan seluruh struktur nasional di Gaza, dengan masyarakat, dan dengan setiap kemungkinan untuk pulih,' ujar Ahmed al-Tanani saat diwawancarai media. Menurutnya, rudal-rudal Israel sengaja dirancang untuk membawa wilayah tersebut ke dalam siklus kematian dan kekacauan internal.
Di sisi lain, kebijakan destruktif ini juga dikonfirmasi secara terbuka oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang menyebut penghancuran wilayah tersebut membawa rasa nyaman bagi dirinya. Pengamat urusan Israel, Mohannad Mustafa, menilai pernyataan tersebut mencerminkan sentimen umum di dalam pemerintahan Israel saat ini untuk menduduki kembali wilayah Gaza secara permanen. Strategi agresi ini pun pada akhirnya melumpuhkan efektivitas Dewan Perdamaian yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengawal transisi pascaperang.