Veteran Operasi Entebbe Boikot Peringatan Bersama Netanyahu, Sebut Pemerintah Abaikan Sandera
- Wakil komandan raid Entebbe Matan Vilnai beserta puluhan veteran militer Israel memboikot upacara peringatan resmi misi penyelamatan legendaris tersebut.
- Aksi boikot dipicu oleh kekecewaan mendalam terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang dianggap menelantarkan sandera Israel di Gaza sejak Oktober 2023.
- PM Netanyahu tetap menghadiri acara dan mengaitkan warisan keberhasilan Operasi Entebbe dengan konfrontasi militer saat ini melawan poros Iran.
Puluhan veteran militer yang terlibat dalam Operasi Entebbe, salah satu misi penyelamatan sandera paling tersohor dalam sejarah Israel, secara terbuka memboikot upacara peringatan resmi negara. Aksi boikot massal ini ditujukan langsung sebagai bentuk protes keras terhadap Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu yang menjadi tamu kehormatan dalam acara tersebut. Para veteran, komando senior, hingga sejumlah mantan sandera yang selamat menolak hadir karena menilai pemerintah saat ini telah kehilangan moralitas kepemimpinan.
Mantan wakil komandan penyerbuan Entebbe, Jenderal Purnawirawan Matan Vilnai, menyatakan keheranannya atas urgensi perayaan tersebut di tengah situasi perang yang masih berkecamuk. 'Apa sebetulnya yang ingin dirayakan dari sebuah operasi yang terjadi 50 tahun lalu? Saya bahkan tidak pernah merayakan apa pun lagi sejak tragedi 7 Oktober,' ujar Vilnai dalam sebuah wawancara. Menurutnya, mengadakan pesta seremonial di saat ribuan tentara aktif dan cadangan masih bertaruh nyawa di medan pertempuran adalah tindakan yang sangat tidak etis.
Dalam pernyataan tertulis bersama, kelompok veteran ini menegaskan bahwa mereka menolak keras dijadikan sekadar pajangan politik demi memoles citra Netanyahu. Mereka menuduh sang perdana menteri telah mengabaikan nasib warga Israel yang hingga kini masih disandera oleh kelompok Hamas di Jalur Gaza. Selain masalah sandera, kebijakan Netanyahu yang tetap memberikan dispensasi wajib militer massal bagi komunitas ultra-Ortodoks di tengah krisis keamanan juga memicu kemarahan para mantan prajurit tersebut.
Kendati mendapatkan gelombang boikot dari rekan-rekan mendiang kakaknya, Yonatan Netanyahu, yang gugur memimpin operasi tersebut, Benjamin Netanyahu tetap menyampaikan pidato di podium. Dalam orasinya, Netanyahu mencoba mengaitkan kisah heroik Entebbe tahun 1976 dengan operasi militer yang dijalankan pasukannya hari ini. 'Kami secara sistematis tengah menghancurkan poros kejahatan Iran, pihak yang mencoba meluncurkan rencana besar untuk memusnahkan Israel,' ucap Netanyahu di hadapan para hadirin yang tersisa.
Ketegangan ini mencerminkan betapa dalamnya perpecahan internal di tengah masyarakat dan internal militer Israel saat ini akibat konflik berkepanjangan. Sejumlah veteran menegaskan bahwa nilai-nilai pengorbanan yang mereka perjuangkan puluhan tahun lalu kini telah luntur di tangan pemerintahan garis keras. Walau Presiden Isaac Herzog berupaya meredam situasi dengan menyatakan bahwa warisan Operasi Entebbe berada di atas segala perbedaan politik, absennya para aktor utama malam itu membuktikan bahwa luka domestik di Israel kian menganga luas.