Kisah WS Game Company, Coba Bikin Monopoly 'Made in USA' Demi Hindari Tarif Donald Trump
- WS Game Company mencoba memproduksi Monopoly edisi khusus ulang tahun ke-250 di Amerika Serikat demi menghindari kebijakan tarif impor Presiden Donald Trump.
- Eksperimen manufaktur lokal ini menghadapi kendala besar mulai dari ketiadaan ekosistem komponen lokal seperti dadu, hingga rantai pasok yang memakan waktu setahun lebih.
- Biaya produksi papan permainan di AS membengkak hingga dua kali lipat dibanding biaya di China, membuat perusahaan kembali bergantung pada impor luar negeri.
Papan permainan legendaris Monopoly selama ini selalu mengajarkan pelajaran ekonomi yang berharga mulai dari keuntungan investasi properti hingga potensi laba dari merger. Namun, edisi khusus terbaru dari permainan ini justru memberikan pelajaran baru yang cukup pahit tentang realitas industri manufaktur. WS Game Company mencoba memindahkan produksi Monopoly ke Amerika Serikat (AS) demi menyiasati kebijakan tarif impor dari Presiden Donald Trump, tetapi eksperimen tersebut justru hampir berujung kegagalan total.
Langkah ini bermula ketika CEO WS Game Company, Jonathan Silva, mendapati perusahaannya dihantam tagihan tarif impor bernilai jutaan dolar pada tahun lalu. Kondisi finansial tersebut mendorong Silva untuk menguji coba apakah memproduksi papan permainan secara lokal di AS bisa mendatangkan keuntungan finansial bagi perusahaan. Sebagai proyek percontohan, ia memilih produk Monopoly edisi khusus yang dirancang untuk memperingati ulang tahun ke-250 negara paman sam tersebut.
Namun, hambatan besar langsung menghadang di awal proyek akibat ketiadaan ekosistem komponen mainan lokal, salah satunya adalah tidak adanya pabrik dadu di dalam negeri. Kondisi rantai pasok yang terfragmentasi membuat proses perakitan seluruh komponen memakan waktu lebih dari setahun dan berimbas pada hilangnya momen puncak penjualan paruh pertama. Masalah utama yang paling krusial adalah pembengkakan biaya produksi ritel yang mencapai $80 per unit, nilai yang tercatat dua kali lipat lebih mahal dibandingkan jika diproduksi di China.
'Ketika saya mengajukan pesanan pembelian di China, mereka memiliki semua kapabilitas tersebut di bawah satu atap pabrik yang terintegrasi,' ujar Jonathan Silva dalam wawancara media. Silva menambahkan bahwa untuk satu jenis barang saja, proses penyesuaian produksi di dalam negeri telah menguras terlalu banyak sumber daya operasional dan waktu berharga perusahaan. Saat ini, hampir 80 persen dari total produk mainan dan permainan yang beredar di pasar domestik AS masih sangat bergantung pada pasokan pabrik asal negeri tirai bambu.
Kondisi ini diamini oleh Greg Ahearn selaku Presiden dan CEO The Toy Association yang menyebutkan bahwa membangun kembali ekosistem manufaktur lokal tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menurut Ahearn, insentif modal industri biasanya lebih diprioritaskan untuk sektor produk strategis nasional ketimbang industri mainan anak yang memiliki margin keuntungan rendah. Menyadari kenyataan tersebut, Silva kini memilih bersiap menghadapi pesanan liburan senilai $6 juta dari China sambil pasrah menunggu kepastian tagihan tarif impor yang akan datang.