Gawat, Pendukung Militan Donald Trump Anjlok ke Rekor Terendah Sepanjang Sejarah
- Survei terbaru dari Washington Post-Ipsos mencatat hanya 15 persen warga Amerika Serikat yang menyatakan sangat mendukung kepemimpinan Donald Trump.
- Tren penurunan ini dikonfirmasi oleh berbagai lembaga survei kredibel lainnya seperti Fox News dan Reuters-Ipsos yang menempatkan loyalitas loyalis Trump di bawah 20 persen.
- Kemerosotan dukungan ini juga melanda basis pemilih krusial Trump, termasuk kelompok warga kulit putih tanpa gelar sarjana dan pemilih dari Partai Republik.
Kekuatan politik Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang selama ini bertumpu pada loyalitas buta para pendukung militannya dilaporkan mulai rapuh. Asumsi konvensional yang menyebut Trump memiliki basis massa yang sangat fanatik kini tidak lagi relevan melihat tren penurunan popularitasnya yang sangat drastis. Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa kelompok pendukung setia yang menjadi pilar utama kekuatan politiknya kini telah menyusut ke titik terendah dalam sejarah.
Berdasarkan survei terbaru yang dirilis oleh Washington Post-Ipsos, hanya ada sekitar 15 persen warga Amerika Serikat yang menyatakan sangat menyetujui kinerja Trump saat ini. Angka tersebut setara dengan kurang dari satu dari setiap enam orang di negara tersebut, yang sekaligus menandai rekor terendah sepanjang sejarah jajak pendapat itu dilakukan. Padahal, sebagai perbandingan, tingkat dukungan kuat terhadap Trump langsung pascapelantikan dan pada Februari 2025 sempat mencapai angka 27 persen.
Penurunan tajam ini ternyata tidak hanya terekam oleh satu lembaga survei saja melainkan terkonfirmasi melalui serangkaian riset opini publik berstandar tinggi lainnya. Data dari Reuters-Ipsos mencatat dukungan kuat sebesar 14 persen, diikuti oleh Marquette Law School sebesar 16 persen, AP-NORC dengan 19 persen, dan Fox News di angka 20 persen. Rentetan data makro ini membuktikan bahwa persentase warga yang benar-benar membela kebijakan Trump kini secara konsisten berada di rentang bawah.
Fenomena mengkhawatirkan bagi kubu Gedung Putih ini juga merambah ke demografi pemilih yang selama ini dianggap sebagai benteng pertahanan politik Trump. Di kalangan internal Partai Republik, tercatat hanya 41 persen yang menyatakan sangat mendukung, sementara di kalangan pemilih independen angka tersebut anjlok hingga tersisa 6 persen saja. Bahkan pada kelompok masyarakat kulit putih yang tidak menempuh pendidikan tinggi, yang secara tradisional merupakan pendukung paling fanatik, tingkat dukungan kuatnya kini merosot hingga 24 persen.
Realitas ini memperlihatkan bahwa cengkeraman besi Trump atas gerakan politik skala besar di Amerika Serikat perlahan mulai terlepas akibat akumulasi kekecewaan publik. Sejumlah jajak pendapat dalam beberapa bulan terakhir juga mengindikasikan banyak pemilih yang mulai mempertanyakan kembali keputusan politik mereka pada pemilu 2024 lalu. Jika tren pengikisan basis massa ini terus berlanjut tanpa ada perubahan strategi yang signifikan, posisi politik Trump diprediksi akan semakin tersudut menjelang pemilihan paruh waktu.