Bongkar Skandal Gedung Putih, Donald Trump Diduga Keruk Cuan Lewat Saham dan Isu Monopoli Informasi
- Presiden AS Donald Trump dan timnya menghadapi gelombang tuduhan konflik kepentingan serius terkait dugaan mencari keuntungan finansial pribadi selama masa jabatannya.
- Investigasi menemukan indikasi penggunaan akun Truth Social untuk memengaruhi pasar saham, bersamaan dengan skandal insider trading yang menjerat operator teleprompter Gedung Putih.
- Perusahaan milik Trump berencana menjual akses data feed (API) eksklusif kepada firma Wall Street agar mereka bisa mengeksekusi perdagangan kilat berbasis unggahan sang presiden.
Sorotan tajam kembali mengarah pada integritas pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyusul serangkaian laporan dugaan konflik kepentingan yang kian vulgar. Banyak pihak menilai sang presiden beserta lingkaran dalamnya memanfaatkan jabatan di periode kedua ini demi memperkaya diri sendiri secara tidak wajar. Berbagai temuan investigasi yang mencuat dalam waktu berdekatan memperlihatkan betapa tipisnya batas antara kebijakan negara dan bisnis pribadi di bawah kepemimpinan Trump saat ini.
Salah satu temuan paling mengejutkan datang dari investigasi media CNN yang membeberkan bahwa Trump kerap mempromosikan lebih dari 20 perusahaan melalui akun Truth Social miliknya hanya berselang beberapa hari setelah membeli saham di perusahaan-perusahaan tersebut. Tidak jarang pengumuman atau tindakan resmi pemerintah yang menguntungkan korporasi itu dirilis secara simultan dengan aktivitas investasinya. Langkah ini dinilai banyak analis pasar sebagai bentuk intervensi informasi yang sangat menguntungkan portofolio pribadi sang presiden.
Ironisnya, dugaan praktik curang ini tidak hanya berhenti di level tertinggi, melainkan juga merembet ke jajaran staf kepresidenan. Operator teleprompter Gedung Putih bernama Gabriel Perez kini tengah diselidiki oleh Komisi Perdagangan Berjangka Komoditi (CFTC) atas dugaan melakukan insider trading bernilai lebih dari 90.000 dolar AS. Perez diduga memanfaatkan akses awal terhadap naskah pidato rahasia Trump untuk bertaruh di pasar prediksi. Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengonfirmasi bahwa Trump telah mengetahui laporan tersebut dan mengutuk keras tindakan itu sembari menonaktifkan Perez tanpa gaji.
Puncak dari rentetan skandal ini adalah rencana Trump Media & Technology Group untuk menjual akses data feed khusus (API) berbayar kepada firma-firma raksasa di Wall Street mulai bulan depan. Fasilitas API ini nantinya memungkinkan para investor kakap menerima unggahan dari akun-akun populer di Truth Social, terutama akun Trump sendiri, secara real-time demi melakukan transaksi kilat sebelum pasar merespons secara umum. Langkah komersialisasi ini dinilai sangat rawan karena Trump selama ini terbukti sering mengunggah pesan krusial, seperti isu ketegangan geopolitik dengan Iran, tepat pada saat pembukaan atau penutupan bursa saham.
Meski juru bicara Gedung Putih Anna Kelly bersikeras menyatakan bahwa investasi Trump dikelola oleh pihak ketiga dan mengklaim tidak ada konflik kepentingan, publik telanjur skeptis. Terlebih lagi, Trump dalam wawancara terdahulu secara blak-blakan mengaku tidak peduli dengan persepsi publik dan merasa berhak menjalankan bisnisnya karena merasa kurang mendapat apresiasi pada periode pertamanya. Dengan akumulasi kekayaan dari sektor mata uang kripto yang menembus angka 1 miliar dolar AS serta tumpang tindih urusan bisnis keluarganya dengan kebijakan luar negeri, riak politik di Washington diprediksi akan semakin memanas dalam beberapa bulan ke depan.