Perpustakaan Jakarta Perpustakaan Jakarta
  • Internasional
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Hukum
  • Entertainment
  • Bisnis
  • Budaya
  • Lingkungan
  • Teknologi
  • Amerika Serikat
  • Donald Trump
  • Kolombia
  • Inggris
  • Bali
  • Iran
  • Yogyakarta
  • Medan
  • Selat Hormuz
  • Surabaya
Kategori
Internasional Nasional Ekonomi Olahraga Hukum Entertainment Bisnis Budaya Lingkungan Teknologi
Tag
Amerika Serikat Donald Trump Kolombia Inggris Bali Iran Yogyakarta Medan Selat Hormuz Surabaya

Cina Uji Coba Rudal Balistik dari Kapal Selam di Pasifik Selatan, Picu Ketegangan Global

Tim Redaksi • 15 Juli 2026, 16:00 • Internasional
  • Angkatan Laut Cina sukses menguji coba peluncuran rudal balistik jarak jauh berhulu ledak tiruan dari kapal selam nuklir di kawasan Pasifik Selatan.
  • Langkah militer Beijing ini langsung memicu protes keras dari sejumlah negara tetangga seperti Australia, Jepang, Selandia Baru, hingga sekutu utama mereka, Amerika Serikat.
  • Uji coba tersebut dinilai para analis sebagai sinyal kuat kepada Pentagon bahwa kekuatan penangkal nuklir Cina kini tidak lagi bertumpu pada pangkalan darat.

Angkatan Laut Cina dilaporkan telah melakukan uji coba peluncuran rudal balistik jarak jauh dari salah satu kapal selam bertenaga nuklir miliknya di kawasan Pasifik Selatan. Langkah militer yang tergolong langka ini langsung memicu gelombang protes serta kekhawatiran mendalam dari negara-negara di kawasan tersebut dan juga Amerika Serikat. Menurut laporan kantor berita resmi Xinhua, rudal yang diluncurkan pada Senin siang waktu setempat tersebut membawa hulu ledak tiruan.

Kementerian Pertahanan Cina melalui pernyataan resminya berdalih bahwa peluncuran yang berlangsung pukul 12.01 waktu setempat itu merupakan bagian dari pelatihan tahunan rutin yang rutin. Mereka mengklaim tindakan tersebut sepenuhnya mematuhi hukum serta praktik internasional, dan tidak ditujukan kepada negara atau target mana pun. 'Kami berharap negara-negara terkait dapat menghindari interpretasi yang berlebihan,' ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina dalam menanggapi dinamika politik yang berkembang.

Kendati demikian, aksi pamer kekuatan militer Beijing ini langsung mendapat kritik tajam dari Australia, Jepang, dan Selandia Baru. Pemerintah Selandia Baru mengonfirmasi bahwa mereka baru diberitahu beberapa jam sebelum peluncuran, dan sangat menyayangkan karena rudal tersebut ditembakkan ke Zona Bebas Nuklir Pasifik Selatan yang dilindungi Traktat Rarotonga 1986. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong yang tengah berada di Fiji secara tegas menyatakan kekecewaannya. 'Australia telah menyampaikan dengan jelas kepada Cina bahwa kami menganggap tindakan ini dapat mengganggu stabilitas kawasan,' ujar Penny Wong kepada awak media.

Ketegangan ini kian diperparah oleh pernyataan dari Tokyo dan Washington yang menyoroti minimnya transparansi militer Negeri Tirai Bambu tersebut. Sekretaris Kabinet Kepala Jepang Minoru Kihara menyatakan bahwa aktivitas militer Cina yang dikombinasikan dengan kurangnya keterbukaan informasi telah menjadi kekhawatiran serius bagi Jepang dan masyarakat internasional. Di sisi lain, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Thomas Pigott menuduh Beijing tengah melakukan pembangunan senjata nuklir yang cepat dan buram, di saat dunia sedang bekerja keras mencegah proliferasi nuklir.

Para pengamat militer menilai bahwa uji coba ini membawa pesan geopolitik yang sangat kuat, khususnya bagi Pentagon. Lyle Morris, peneliti senior di Asia Society Policy Institute's Center for China Analysis, mengungkapkan bahwa ini adalah pertama kalinya Cina mengumumkan secara terbuka uji coba rudal dari kapal selam nuklir yang menempuh jarak sejauh itu di Pasifik. Hal senada disampaikan oleh Drew Thompson dari Nanyang Technological University yang menyebut modernisasi militer tanpa transparansi ini terus memicu ketidakpastian global, terlebih dengan proyeksi Pentagon bahwa Cina akan memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada tahun 2030.

Tags: Cina Amerika Serikat Australia Jepang Pasifik Selatan
Sumber: NPR

Artikel Lainnya

Kisah Neil, Anjing Laut Raksasa 1 Ton yang Bikin Heboh Permukiman di Australia 15 Jul 2026, 10:31
Australia Perketat Hukum Larangan Media Sosial Bagi Anak di Bawah 16 Tahun 15 Jul 2026, 06:04
Todd Blanche Diprediksi Mulus Jadi Jaksa Agung AS, Didukung Kubu Republik 15 Jul 2026, 12:12
Seluruh Tim Penangkapan ICE Kini Wajib Dilengkapi Kamera Tubuh Usai Dua Penembakan Fatal 15 Jul 2026, 15:18

Terbaru

Pengusaha SPBU Kolombia Galang Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Gempa Venezuela 15 Jul 2026, 16:10
Dilema Ekonomi Tiongkok, Antara Ambisi Pembangunan Masif dan Krisis Pengangguran Muda 15 Jul 2026, 16:10
Menteri Keuangan Chile Bantah Ada Trik dalam Rencana Pemangkasan Pajak Korporasi 15 Jul 2026, 16:06
Reformasi Dana Bahan Bakar Kolombia, Pengusaha Minta Harga Tetap Stabil dan Transparan 15 Jul 2026, 16:05
Dolar Venezuela Tembus 723 Bolivar, Inflasi dan Kebutuhan Transaksi Picu Lonjakan 15 Jul 2026, 16:05
Ekonomi Cile Terpuruk, Pesimisme Finansial Rumah Tangga Tembus Level Terburuk dalam 12 Tahun 15 Jul 2026, 16:04
Polemik Kontrak Lahan Milik Mafia di Kolombia, Dituding Jadi Kedok Aksi Perampasan Aset 15 Jul 2026, 16:04

Kategori

Internasional 53 artikel
Nasional 50 artikel
Ekonomi 48 artikel
Olahraga 40 artikel
Hukum 21 artikel
Entertainment 17 artikel
Bisnis 15 artikel
Budaya 12 artikel
Lingkungan 9 artikel
Teknologi 6 artikel

Tag Populer

Amerika Serikat Donald Trump Kolombia Inggris Bali Iran Yogyakarta Medan Selat Hormuz Surabaya
Perpustakaan Jakarta • Pusat Literasi dan Informasi Terpercaya
Privacy Policy • Cookie Policy • Legal Notice • Subscription Terms • Privacy Settings
2018 Perpustakaan Jakarta. All rights reserved.