AS Blokade Pelabuhan Iran dan Lancarkan Serangan Baru di Selat Hormuz
- Militer Amerika Serikat resmi memberlakukan blokade laut terhadap seluruh kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan serta wilayah pesisir Iran.
- Komando Sentral AS (CENTCOM) meluncurkan gelombang serangan udara baru ke beberapa kota strategis Iran guna melumpuhkan kemampuan militer Teheran di Selat Hormuz.
- Iran membalas dengan menyerang kapal tanker di Selat Hormuz serta meluncurkan serangan udara ke negara-negara tetangga seperti Yordania, Bahrain, dan Kuwait.
Militer Amerika Serikat (AS) secara resmi telah memberlakukan blokade maritim penuh terhadap kapal-kapal yang transit dari dan menuju pelabuhan serta wilayah pesisir Iran mulai Selasa malam pukul 20.00 GMT. Blokade ketat ini langsung diikuti oleh pengumuman dari Komando Sentral AS (CENTCOM) mengenai dimulainya gelombang serangan udara baru ke wilayah Iran. Langkah agresif Washington ini dilakukan setelah muncul laporan dari media lokal Iran mengenai ledakan besar akibat serangan AS di dekat kota strategis Sirik dan Bandar Abbas.
Pihak CENTCOM menegaskan bahwa serangan udara terbaru tersebut ditargetkan untuk melumpuhkan kemampuan militer Iran yang kerap digunakan untuk mengganggu pelayaran komersial di kawasan Selat Hormuz. Sebelumnya, serangan udara AS juga dilaporkan telah menghantam beberapa titik vital lainnya seperti kota Abadan, yang merupakan lokasi kilang minyak tertua di Timur Tengah, serta wilayah pelabuhan Mahshahr, Pulau Qeshm, dan Pulau Kish. Aksi saling serang ini semakin memperuncing konflik bersenjata antara kedua negara di jalur perdagangan energi dunia tersebut.
Menanggapi gempuran bertubi-tubi dari AS, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tidak tinggal diam dan langsung melancarkan serangan balasan yang melumpuhkan dua kapal supertanker di perairan Oman. Uni Emirat Arab mengonfirmasi bahwa serangan balasan Iran di Selat Hormuz tersebut menewaskan seorang awak kapal. Tidak hanya itu, IRGC juga menargetkan fasilitas militer AS di Yordania serta meluncurkan serangan udara ke Bahrain dan Kuwait, yang memicu kepanikan luar biasa di wilayah Teluk hingga sirene bahaya diaktifkan di beberapa kota.
Ketegangan regional ini memicu kekhawatiran global akan potensi pecahnya perang skala penuh di Timur Tengah. Menanggapi situasi yang kian tak terkendali, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dirinya memutuskan untuk membatalkan rencana awal mengenai biaya penggantian 20% dari AS dan menggantinya dengan kesepakatan perdagangan dan investasi langsung dari negara-negara Teluk ke AS. Trump menuduh Iran sebagai pihak yang memulai eskalasi militer ini dan menegaskan bahwa AS akan terus membalas setiap tindakan provokasi dengan kekuatan penuh.
Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengecam keras tindakan sepihak AS yang dinilai telah menghancurkan nota kesepahaman (MoU) bilateral yang disepakati sebelumnya pada Juni lalu. Gharibabadi menegaskan bahwa Iran kini tidak lagi memiliki komitmen apa pun di bawah kesepakatan tersebut, termasuk aturan mengenai kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Pihak Iran juga memperingatkan bahwa blokade militer yang dipaksakan oleh Washington tidak akan pernah bisa menyeret Teheran kembali ke meja perundingan.