Ngeri, Ambisi Trump Seret AS ke "Perang Abadi" Baru Lawan Iran Demi Puaskan Netanyahu
- Presiden AS Donald Trump dinilai melanggar norma hukum humaniter internasional dengan mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran seperti jembatan dan pembangkit listrik.
- Kebijakan konfrontasi militer ini diduga kuat tidak memiliki rencana jangka panjang yang jelas dan hanya didasarkan pada pengaruh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
- Ketahanan Iran dalam menghadapi belasan ribu serangan udara justru mengungkap batas kemampuan militer AS serta memicu ancaman krisis ekonomi akibat lonjakan harga minyak global.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kini dinilai tengah menyeret negaranya ke dalam pusaran "Perang Abadi" baru di Timur Tengah dengan target Iran. Ironisnya, Trump yang dahulu sempat mendambakan Hadiah Nobel Perdamaian karena berjanji mengakhiri berbagai perang, kini justru menjadikan kekuatan militer sebagai alat diplomasi kasual yang sangat berbahaya. Langkah mengerahkan mesin militer terbesar dalam sejarah ini terkesan dilakukan tanpa perhitungan matang, yang berisiko tinggi mengorbankan personel militer AS sendiri serta ribuan nyawa warga sipil.
Kritik tajam dari para pakar hukum internasional mencuat setelah Trump secara terbuka mengancam akan meluncurkan serangan dahsyat terhadap infrastruktur vital Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik. Secara hukum internasional, tindakan menargetkan fasilitas sipil seperti itu secara sengaja dikategorikan sebagai kejahatan perang. Trump dianggap mengabaikan aturan baku hukum humaniter internasional yang selama beberapa dekade terakhir selalu berusaha dipatuhi, setidaknya secara formal, oleh para pendahulunya di Gedung Putih sebagai upaya menjaga legitimasi moral Pentagon.
Di balik agresi yang tak berkesudahan ini, Trump disinyalir tidak pernah menjelaskan urgensi eksistensial dari konflik ini kepada publik domestik AS. Berbagai pengamat menilai Trump memutuskan untuk berkonfrontasi dengan Teheran hanya karena tergiur oleh momentum yang disodorkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Akibatnya, AS kini terjebak dalam perang pilihan yang tidak memiliki rencana matang pasca-pengeboman atau skenario jika rezim Iran akhirnya runtuh, sehingga konflik ini terus berjalan tanpa arah yang jelas.
Meskipun Iran telah digempur oleh lebih dari 13.000 serangan udara yang menewaskan banyak perwira militer mereka, ketahanan negara para mullah tersebut terbukti sangat kokoh. Militer Iran mampu bertahan dan mengonsolidasikan kembali kekuatannya, sementara AS justru dilaporkan mulai menghadapi kesulitan serius dalam mengisi kembali cadangan amunisi mereka. Ketangguhan Iran ini secara tidak langsung memperlihatkan batas ketahanan dan tekad militer Washington yang selama ini dianggap tidak terbatas.
Kini, kelanjutan petualangan militer Trump di Timur Tengah ini membentur dua faktor pembatas utama yang sangat krusial bagi publik AS. Faktor pertama adalah lonjakan harga minyak mentah dunia yang kian mendekati krisis baru seiring menipisnya cadangan global akibat konflik berkepanjangan. Faktor kedua adalah anjloknya tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan Trump menjelang pemilu paruh waktu, yang berpotensi menghancurkan warisan ekonomi bagi penerus politik yang telah ditunjuknya.