Iran Mencekam, Perang Lawan AS-Israel dan Gelombang Panas Picu Pemadaman Massal!
- Kombinasi serangan militer Amerika Serikat-Israel dan gelombang panas ekstrem memicu krisis listrik serta pemadaman massal di berbagai wilayah Iran.
- Kerusakan infrastruktur akibat pengeboman menyebabkan jaringan listrik kehilangan kapasitas hingga 4.200 megawatt dan merusak ribuan titik distribusi.
- Para pengamat menilai perang memperparah krisis energi laten di Iran yang sejak lama dipicu oleh kurangnya investasi dan penuaan fasilitas transmisi.
Krisis energi hebat tengah melanda Iran di tengah situasi konflik bersenjata dan cuaca ekstrem. Kombinasi antara gelombang panas yang membakar wilayah Timur Tengah dan rentetan serangan udara dari militer Amerika Serikat serta Israel telah memicu pemadaman listrik massal di berbagai kota besar, termasuk ibu kota Tehran. Situasi ini melumpuhkan aktivitas harian warga, mulai dari kegagalan sistem ujian di universitas hingga ancaman keselamatan bagi pasien rumah sakit yang bergantung pada alat penunjang hidup.
Pihak berwenang Iran terpaksa menelan kekecewaan warga setelah janji-janji manis sebelum perang pecah terbukti gagal total. Padahal, sebelum meletusnya perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran pada Februari lalu, Presiden Masoud Pezeshkian bersama Menteri Energi Abbas Aliabadi sempat menjamin bahwa musim panas tahun ini akan dilalui tanpa ada gangguan pasokan listrik. Kini, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik lantaran pemadaman tanpa pemberitahuan telah menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat.
Skala kerusakan infrastruktur energi akibat serangan udara ini dikonfirmasi sangat masif oleh petinggi otoritas setempat. Direktur Utama perusahaan listrik nasional Iran, Mohammad Allahdad, menyatakan bahwa grid nasional mengalami penurunan kapasitas drastis hingga 4.200 megawatt akibat kerusakan di lebih dari 2.000 titik jaringan. Serangan bom AS dilaporkan telah menghancurkan pembangkit listrik di Pulau Kish serta melumpuhkan jalur distribusi utama di wilayah strategis seperti Bandar Abbas, Jask, dan Chabahar.
Meskipun sejumlah industri besar seperti pabrik baja Mobarakeh Steel Company dan Khouzestan Steel berhenti beroperasi akibat pemboman dan otomatis mengurangi beban grid, surplus daya tetap tidak terjadi. Profesor ekonomi dari Universitas Tehran, Bahman Arman, menjelaskan bahwa kehancuran kompleks petrokimia Mahshahr yang biasanya menyuplai kelebihan daya justru kini berbalik menyedot energi dari jaringan nasional. Krisis kian pelik karena infrastruktur yang ada dinilai sudah menua dan tidak mendapatkan investasi yang memadai selama bertahun-tahun.
Dampak ekonomi dari pemadaman ini pun diprediksi akan berlangsung jangka panjang bagi sektor non-migas Iran. Mantan Kepala Kamar Dagang, Industri, Tambang, dan Pertanian Iran, Hossein Selahvarzi, memperingatkan bahwa kawasan industri kini menghadapi pemadaman rutin selama empat hingga enam jam per hari. Pembatasan pasokan daya ini secara otomatis memotong volume produksi, melonjakkan biaya operasional, menunda pengiriman pesanan, hingga menghentikan laju ekspor negara yang tengah berjuang di masa perang.