AS Mengamuk, Bombardir Iran 8 Malam Berturut-turut Usai Tentara Amerika Tewas
- Militer Amerika Serikat meluncurkan serangan udara ke Iran selama delapan malam berturut-turut sebagai respons atas tewasnya dua tentara AS di Yordania.
- Ledakan besar dilaporkan terdengar di wilayah Bandar Abbas dan Pulau Qeshm akibat gempuran rudal dan jet tempur AS.
- Iran menyatakan gencatan senjata batal dan menyebut tanda tangan Presiden AS Donald Trump sama sekali tidak berharga.
Militer Amerika Serikat (AS) kembali meluncurkan gelombang serangan udara mematikan ke wilayah Iran demi menghukum dengan cepat negara tersebut atas tewasnya dua personel militer AS di Yordania. Aksi brutal ini menandai malam kedelapan berturut-turut jet tempur dan rudal AS menggempur wilayah Iran tanpa henti. Kantor berita resmi Iran melaporkan bahwa rentetan ledakan keras terdengar jelas di Bandar Abbas dan Pulau Qeshm sepanjang malam.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa operasi militer terbaru diselesaikan pada pukul 23.30 waktu setempat dengan menargetkan pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Selain memburu aktor di balik serangan di Yordania, AS juga menghancurkan sejumlah fasilitas penting Iran. "Pasukan CENTCOM berhasil menghantam fasilitas pengawasan pantai dan pertahanan udara militer Iran, kemampuan maritim, serta lokasi penyimpanan rudal dan drone untuk terus melumpuhkan kemampuan militer Iran," tulis pernyataan resmi CENTCOM via media sosial X.
Ketegangan ini dipicu oleh serangan mematikan Iran terhadap pangkalan militer yang digunakan AS di Al-Azraq, Yordania. Insiden tersebut menewaskan dua tentara Amerika dan menyebabkan satu prajurit lainnya hilang dalam tugas, yang menjadi korban jiwa pertama militer AS akibat serangan Iran sejak Maret lalu. Pengamat militer CNN sekaligus pensiunan Kolonel Angkatan Udara AS, Cedric Leighton, menilai serangan ini membuktikan kekuatan jarak jauh Iran. "Dengan serangan di pangkalan udara Al-Azraq di Yordania, itu menunjukkan bahwa pihak Iran masih bersedia menggunakan sistem senjata jarak jauh," kata Leighton.
Akibat eskalasi yang terus memanas ini, kesepakatan gencatan senjata yang sempat dirintis bulan lalu kini hancur lebur tanpa sisa. Pemerintah Tehran secara resmi mengumumkan penangguhan seluruh komitmennya terhadap perjanjian awal dengan Washington. Pemimpin Tertinggi Iran bahkan secara terbuka mengejek Presiden AS Donald Trump dengan menyebut tanda tangannya sama sekali tidak berharga. Kendati demikian, Trump menegaskan operasi militer AS tidak akan berhenti dalam waktu dekat. "Serangan akan terus berlanjut sampai saya katakan ini sudah cukup," tegas Trump dalam wawancaranya bersama Fox News.
Di sisi lain, internal pemerintahan Washington sendiri mulai meragukan efektivitas serangan bom udara yang agresif tersebut. Wakil Presiden AS JD Vance selaku negosiator utama mengisyaratkan bahwa kekuatan militer saja tidak akan cukup untuk merebut kendali penuh Iran atas Selat Hormuz. "Anda bisa mengebom mereka, menghancurkan radar, drone, dan sebagian rudal mereka, tetapi terlalu mudah bagi mereka untuk menembaki kapal-kapal di selat. Jadi, Anda sebenarnya harus mau berbicara dan mencoba menyelesaikan masalah ini," pungkas Vance.