Hubungan Memanas, Iran Sebut Perjanjian Damai Batal Usai Serangan Brutal AS
- Negosiator ulung Iran Mohammed Bagher Ghalibaf menyatakan kesepakatan damai dengan AS batal karena serangan udara bertubi-tubi dari Washington.
- Serangan udara AS di dekat Selat Hormuz dilaporkan menewaskan sedikitnya tujuh tentara Iran dan menyasar sejumlah infrastruktur militer.
- Iran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan AS di Bahrain dan Kuwait, yang memicu kecaman dari negara-negara Teluk.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali membara setelah militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah Iran. Menanggapi agresi tersebut, negosiator ulung sekaligus tokoh senior Iran, Mohammed Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa angkatan bersenjata negaranya kini memiliki "kebebasan penuh untuk bertindak" guna melawan musuh. Ghalibaf menegaskan bahwa Iran kini tengah berada dalam pusaran "perang eksistensial dengan Amerika" yang membuat kesepakatan damai sebelumnya tidak lagi berlaku.
Serangan udara yang dilancarkan militer AS sejak Selasa malam hingga Rabu waktu setempat dilaporkan telah menewaskan sedikitnya tujuh tentara Iran. AS mengeklaim serangan tersebut menyasar target-target militer strategis di sepanjang pesisir Iran dekat Selat Hormuz dan Pulau Tunb Besar. Namun, media lokal Iran melaporkan serangan jet tempur AS juga sempat menghantam fasilitas penyimpanan gandum di Provinsi Khuzestan, meskipun klaim ini segera dibantah oleh pihak Pentagon.
Akibat rentetan serangan ini, Teheran secara resmi menyatakan memorandum kesepahaman yang menjadi dasar gencatan senjata rapuh dengan Washington kini telah gugur. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa negaranya tidak lagi memiliki komitmen untuk mematuhi perjanjian tersebut karena AS telah melanggar kesepakatan terlebih dahulu. "Komitmen kami hanya tetap berlaku selama pihak lain juga memenuhi janji mereka," ujar Baghaei yang menambahkan bahwa saat ini fokus utama Iran adalah mempertahankan diri, bukan bernegosiasi.
Situasi kian memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran meluncurkan serangan balasan yang diklaim sebagai "respons mematikan". IRGC menargetkan Armada Kelima AS yang bermarkas di Bahrain serta pusat logistik militer utama AS di Mina Abdullah, Kuwait. Meskipun demikian, Kementerian Pertahanan Kuwait melaporkan berhasil menjatuhkan sedikitnya empat rudal jelajah dan 21 drone asal Iran, sementara militer Yordania juga mencegat tiga rudal di wilayah udara mereka.
Agresi saling balas ini memicu kekhawatiran mendalam dari negara-negara tetangga di kawasan Teluk Arab. Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Jasem Al-Budaiwi, mengecam keras serangan Iran ke Bahrain, Kuwait, dan Yordania yang dinilai dapat menyeret kawasan ke dalam kekacauan yang lebih besar. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras bahwa serangan AS akan semakin intensif jika Iran menolak kembali ke meja perundingan, bahkan mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran.