Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo tidak hanya mengancam keselamatan pasien, tetapi juga membuat tim pemakaman berisiko tinggi menghadapi kemarahan warga akibat larangan ritual pemakaman tradisional. Petugas garis depan ini harus bekerja di tengah ketakutan tertular demi menghentikan rantai penularan.
“Kami bekerja di bawah tekanan dan terus-menerus berpacu dengan waktu, kami tidak punya pilihan," ujar Benjamin Muhindo.”
— Wabah Ebola Republik Demokratik Kongo
Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) tidak hanya mengancam keselamatan pasien dan tenaga medis, tetapi juga para petugas yang menangani jenazah korban. Di Provinsi Ituri, tim pemakaman harus bekerja di tengah kelelahan ekstrem, ketakutan tertular, hingga luapan kemarahan dari keluarga korban yang tengah berduka.
Yuma Adolphe, salah satu anggota tim pemakaman, mengungkapkan bahwa tekanan pekerjaan semakin berat seiring dengan terus meningkatnya jumlah korban meninggal. "Sulit rasanya, tetapi kami berusaha memaksakan diri melampaui batas kemampuan kami," ujarnya kepada The Associated Press, seperti dikutip pada Senin (7/9/2026).
Sejak wabah merebak pada pertengahan Mei, tim-tim kecil dikerahkan ke berbagai titik penyebaran untuk menggali kuburan, menyiapkan jenazah, dan memastikan pemakaman berlangsung aman. Mereka menerima bayaran sekitar US$20 atau Rp352.000 per hari sebagai bagian dari garda terdepan penanganan wabah.
Namun, tugas berat tersebut membuat mereka harus berhadapan langsung dengan keluarga korban yang merasa terhalang oleh protokol kesehatan. Jenazah pasien Ebola wajib ditangani oleh petugas terlatih karena virus masih dapat aktif setelah kematian.
Konflik Tradisi Pemakaman dan Sanksi Hukum
Aturan ketat penanganan jenazah membuat keluarga tidak bebas menyentuh atau melakukan seluruh ritual pemakaman yang sesuai dengan tradisi mereka. Hal inilah yang sering kali memicu kesalahpahaman serta kemarahan mendalam terhadap para petugas di lapangan.
"Biasanya, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga, yang kemudian dapat mengurusnya sesuai keinginan mereka dan adat istiadat Afrika kita," kata Adolphe menjelaskan akar permasalahan ketegangan antara warga dan petugas pemakaman.
Sejak bulan Mei, petugas kesehatan dan tim pemakaman dilaporkan telah beberapa kali menghadapi tindakan penyerangan dari keluarga korban di wilayah pusat penyebaran wabah. Pemerintah setempat merespons situasi ini dengan tegas demi keselamatan para pekerja.
Penasihat gubernur militer Ituri untuk urusan kesehatan dan kemanusiaan, Jeanne Alasha, menegaskan bahwa tindakan menyerang petugas merupakan pelanggaran serius dan dapat dikenai sanksi hukum yang berlaku.
Read Also
5 Sayuran Ini Ternyata Mengandung Nikotin dan Aman Dikonsumsi
Nikotin tidak hanya ditemukan pada rokok dan produk tembakau, tetapi juga...
Daftar 19 Jenis Operasi yang Ditanggung BPJS Kesehatan per September 2026
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menanggung sebanyak 19...
Sering Minum Air Kelapa Apa Dampaknya bagi Kesehatan Ginjal
Air kelapa merupakan minuman alami yang menyegarkan dan kaya manfaat, namun...
BPJS Kesehatan dan Asuransi Swasta Resmi Terhubung dengan Skema KAPJ
Pemerintah resmi menghubungkan BPJS Kesehatan dan asuransi swasta melalui...
Duka Keluarga Korban dan Tekanan Petugas Garis Depan
Kemarahan dan kesedihan warga tercermin nyata dalam proses pemakaman Justine Habineno, seorang anggota paduan suara berusia 36 tahun yang meninggal akibat Ebola. Ibunya, Sofia Wanito, mengaku sangat terpukul karena hanya diperbolehkan melihat jenazah dari jendela rumah sakit tanpa bisa menyentuh peti mati.
"Dulu, kami tidak meninggal seperti ini. Saya bahkan tidak bisa menyelimutinya sendiri dan memberikan penghormatan terakhir," ujar Sofia Wanito mengungkapkan kesedihannya yang mendalam.
Upaya pengendalian wabah di wilayah tersebut semakin sulit dilakukan akibat kombinasi konflik bersenjata, pengungsian massal, lemahnya sistem kesehatan, serta pergerakan penduduk yang tinggi setiap harinya.
Di tengah situasi yang penuh risiko tersebut, anggota tim pemakaman Benjamin Muhindo menyatakan bahwa keluarganya mengkhawatirkan risiko penularan virus ke rumah, namun ia tetap memilih untuk menjalankan tugas kemanusiaannya demi melindungi warga.